POJOKSATU.id, JAKARTA— Mantan Politisi PDIP Maruarar Sirait atau Ara mengusulkan agar Presiden Jokowi menjadi penasihat bagi Presiden dan Wapres terpilih Prabowo-Gibran.

Usulan agar Jokowi ditempatkan sebagai penasihat oleh Presiden terpilih Prabowo pada pemerintahan mendatang ini disambut baik oleh peneliti senior Populi Center, Usep Saepul Ahyar.

Menurut Usep, era kepemimpinan Prabowo adalah kelanjutan pemerintahan Jokowi. Maka dengan posisi Jokowi sebagai penasihat sangat tepat.

“Kalau potensi bangsa saya setuju untuk ditempatkan dengan sebaik-baiknya termasuk Pak Jokowi,” kata Usep, Rabu (15/5/2024).

Menurut Usep, Jokowi juga memiliki peran penting terhadap Prabowo Subianto.

Baca Juga: Sebut Mental Anaknya Terganggu hingga Didampingi Psikolog Gegara Fitnah, Sarwendah : Kalian Coba di Posisi Saya

Usep menambahkan, tidak hanya Presiden Jokowi, siapapun figur yang dianggap memiliki potensi membantu presiden dan wakil presiden terpilih dalam menyelenggarakan tugas kenegaraan harus diberdayakan.

“Sebenarnya Pak Prabowo harus memanfaatkan potensi bangsa siapapun tidak harus Jokowi, tetapi kalau menurut saya Prabowo jangan tergantung hanya satu orang, hanya figur Jokowi tidak harus,” ucapnya.

“Figur-figur yang lain juga banyak, bisa melalui mekanisme-mekanisme yang bisa dipakai oleh Pak Prabowo dalam konteks menyelenggarakan kenegaraan, tugas negara itu,” tambah dia.

Lanjut Usep, salah satu pihak yang mengusulkan agar Presiden Jokowi menjadi penasihat Prabowo-Gibran itu datang dari eks politisi PDIP yang kini beralih menjadi kader Gerindra yakni Maruarar Sirait.

Usep menilai saran itu sebagai bentuk loyalitasnya terhadap Presiden Jokowi, sebab selama ini Maruarar sangat kental sebagai pendukung Presiden Jokowi.

Bahkan alasan keluar dari PDIP juga karena ingin mengikuti garis politik mantan wali kota Solo tersebut.

Baca Juga: Penuh Haru, Aaliyah Massaid Menangis Terima Lamaran Thariq Halilintar

“Jadi itu juga karena wajar saja Maruarar mengusulkan Pak Jokowi untuk menjadi penasihat Pak Prabowo karena memang Maruarar ini kan dalam tanda petik orangnya Jokowi atau pendukung beratnya Jokowi, keluar dari PDIP juga kan karena Jokowi, jadi senasib sepenanggungan,” ungkapnya.

Secara politik dengan menjadi penasihat Prabowo-Gibran, posisi Presiden Jokowi kata Usep akan tetap kuat pasca lengser dari jabatannya.

“Jadi kalau Pak Jokowi ditempatkan sebagai penasihat di pemerintahan secara resmi ya kekuatan dia bertambah kalau dari sisi politiknya, mengingat Jokowi ini tidak punya partai politik jadi tidak punya kekuatan setelah selesai menjabat,” bebernya.

Baca Juga: Caleg Terpilih Maju Pilkada 2024, Ketua KPU Tegaskan Wajib Mundur dari Anggota Dewan Terpilih

“Akan kuat kalau dia jadi penasihat presiden secara resmi itu akan sangat kuat,” imbuh dia.

Di sisi lain, muncul wacana menghidupkan kembali lembaga Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada masa pemerintahan presiden terpilih Prabowo Subianto.

Salah satu orang yang diperkirakan bakal ditempatkan pada posisi itu adalah Jokowi.

Sebelumnya, Maruarar Sirait atau Ara mengusulkan Presiden Jokowi menjadi penasihat Prabowo-Gibran karena memiliki segudang pengalaman, mulai dari menjadi wali kota Surakarta, gubernur DKI Jakarta hingga presiden.

Sehingga Jokowi bisa memberi masukan dan nasihat pada Prabowo-Gibran.

"Pak Jokowi tentu akan memberi masukan dan menjadi penasihat sebagai orang yang berpengalaman," kata Ara.

Apalagi, Prabowo-Gibran bakal melanjutkan program-program Jokowi. Ia juga meminta agar seluruh aktivis bersatu mendukung pemerintah Prabowo ketika Prabowo menjabat.

"Kami adalah aktivis bagian pertama yang mendukung supaya Prabowo kompak dan solid ke depannya," ungkapnya.****