POJOKSATU.id, JAKARTA—Pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto soal Jokowi mau mengambil alih ketua umum PDIP dari Megawati Soekarnoputri menuai perdebatan di publik.
Banyak masyarakat dan tokoh publik yang pro dan kontra terhadap statemen Hasto PDIP ini.
Hasto mengembuskan rumor bahwa Presiden Jokowi akan mengambil alih kursi Ketum PDIP dari Megawati pada sebuah acara diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (2/4/2024) malam.
Hasto pada acara diskusi itu juga menyebut Jokowi telah melakukan abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan.
Berikut pernyataan lengkap Hasto Kristiyanto soal Jokowi mau mengambilalih ketua umum PDI Perjuangan itu.
"Jadi abuse of power sama. TNI Polri juga banyak saksi yang menyatakan. kemudian kendaraan politik dulu adalah Golkar, sekarang gagasan suatu koalisi besar permanen, rencana pengambilalihan Golkar dan PDIP," ujar Hasto.
Hasto mengatakan jauh sebelum Pemilu 14 Februari 20024 atau sekitar 5-6 bulan lalu, ada seorang menteri powerful di Kabinet Jokowi-Maruf Amin yang ditugaskan untuk menjumpai Ryaas Rasyid, dan Ryaas ditugaskan membujuk Megawati.
"Ini ditugaskan bertemu Pak Ryaas Rasyid oleh Jokowi. Pak Ryaas Rasyid ditugaskan untuk membujuk Bu Mega agar kepemimpinan PDIP diserahkan Pak Jokowi," ujar Hasto di acara diskusi Cikini.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Dekati Rp16.000, Cadangan Devisa Menciut. Begini Kata Pengamat!
Sementara itu Presiden Jokowi merespons pernyataan Hasto itu. Jokowi justru bertanya balik bahwa selama ini dia diisukan untuk mengambil alih Partai Golkar.
"Bukan Golkar?" kata Jokowi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (3/4/2024).
Jokowi merasa heran dengan rumor-rumor merebut kursi ketua umum partai politik ini. Dia meminta agar pihak-pihak tersebut tidak memunculkan rumor belaka.
"Katanya mau ngerebut Golkar, katanya mau ngerebut, masa semua mau direbutin semua, jangan seperti itu, jangan seperti itu," ujarnya.***

