POJOKSATU.ID- Pengamat Politik, Ray Rangkuti tidak terlalu kaget bila pilihan cawapres Anies Baswedan berlabuh kepada Muhaimin Iskandar.

Pasalnya dari analisa Ray Rangkuti sejak beberapa bulan lalu, bila sampai pertengah Juli Anies Baswedan belum mengumumkan cawapres, maka peta politik Nasdem itu pasti berubah.

Nyatanya perediksi Ray Rangkuti itu tidak salah, Anies Baswedan malah melabuhkan pilihan terhadap politisi yang akrab disapa Cak Imin itu.

Baca Juga: Nah Lho, Kubu Habib Rizieq Unggah Jejak Digital Cak Imin Pernah Jelek-jelakkan HRS dan FPI, Tolak Dukungan ?

"Saya tidak terkejut dengan situasi ini. Juni 2023 pernah saya sampaikan bila pertengahan Juli 2023, Anies Baswedan tak jua mengumumkan siapa cawapresnya, maka besar kemungkinan yang dipilih bukanlah AHY," kata Ray kepada pojoksatu.id, Jumat, 1 September 2023.

Menurut Ray, Anies memilih Cak Imin bukanlah suatu pilihan yang mengejutkan, karena dari awal memang Nasdem mengincar cawapresnya dari kalangan Nahdiyin.

Sebab, jauh sebelumnya ada beberapa nama tokoh dari Nahdiyin seperti Khofifah, Mahfud MD, dan terakhir adalah Yenni Wahid. Sayangnya nama-nama tersebut tidak mendapat respon partai koalisi.

Baca Juga: Mabes Polri Kerahkan 6.000 Lebih Personel Amankan KTT ke-43 ASEAN di Jakarta

"Dan itu, bukanlah sesuatu yang melompat. Jauh sebelumnya, Anies memang sedang mengincar cawapresnya dari kalangan Nahdhiyin. Anies akhirnya menggaet Cak Imin," ujarnya.

Kendati Nasdem ingin menggaet suara di kalangan Nahdiyin, namun Ray Rangkuti tidak yakin Anies akan mampu meraup suara Nahdiyin di Jatim dan Jateng.

"Apakah dengan begitu, kiranya Anies akan mendapatkannya? Saya ragu. Jikapun ada, tak akan lebih dari 5%," ujarnya.

Baca Juga: Dituding Melecehkan Teks Proklamasi hingga Dipolisikan, Syakir Daulay : ya Allah Kuatkanlah HambaMu

Analisa Ray itu, karena perpaduan Anies-Cak Imin ini, jelas tidak akan menambah barisan pendukung Anies dari kelompok Islam Politik.

Bahkan kecenderungan suara Nahdiyin di Jatim dan Jateng justru pindah kepada capres Prabowo Subianto.

"Tambahan suaranya tak lebih dari 5%, cap perpanjangan tangan Islam Politik berkurang 5%. Tentu kepastiannya tetap menunggu kerja-kerja kompilasi dua aliran politik yang secara tradisionil beda," ujarnya.

Baca Juga: Kisah Cinta Jisoo BLACKPINK dan Park Jung Min Bersatu Hadapi Kiamat Zombie dalam Drama 'Influenza'

Tak hanya itu, lanjut Ray, tidak mudah mengajak pemilih NU masuk kedalam rumah yang sama dengan pemilih Islam politik atau PKS.

Besar kemungkinan suara Nahdiyin akan pindah ke Ganjar. Alasannya kerena dari partai pengusung Anies adalah partai koalisi Jokowi.

"Walhasil wajah Jokowi terlihat ada di kemungkinan 3 capres yang ada. Semuanya jadi serba Jokowi," ujarnya.

Baca Juga: Revitalisasi Kecantikan ala Zaman Kuno: Rahasia Perawatan Kulit dari Berbagai Budaya

Sementara, nasib Demokrat, kata Ray, masih terlihat dalam posisi menggantung. Partai besutan SBY ini butuh 'pemain' lapangan.

Sebab sejak 2014 mereka selalu ketinggalan kereta. Mereka perlu segera mengevaluasi pola dan langkah politiknya.

"Butuh lebih banyak 'pemain' lapangannya," ujarnya.

Baca Juga: Alasan Kasur dengan Bahan GreenTea Latex Cocok untuk Anak-Anak

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya ngamuk-ngamuk atas keputusan sepihak Surya Paloh yang menyandingkan Anies Baswedan dengan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Keputusan Surya Paloh itu dinilai sebagai pengkhianatan terhadap piagam koalisi yang telah disepakati oleh ketiga Parpol.

"Bentuk pengkhianatan terhadap semangat perubahan, pengkhianatan terhadap piagam koalis," kata Teuku Riefky dalam keterangannya, Kamis, 31 Agustus 2023.

Baca Juga: Tips dan Trik Menjaga Kasur Quantum Springbed Agar Selalu Bersih dan Tahan Lama

Selain bentuk pengkhiantan terhadap partai koalisi, kata Teuku Riefky, pihaknya juga menuding Surya Paloh juga telah mengkhianati Anies Baswedan sebagai mandat untuk memimpin Koalisi Perubahan.

"Juga pengkhianatan terhadap apa yang telah disampaikan sendiri oleh Capres Anies Baswedan, yang telah diberikan mandat untuk memimpin Koalisi Perubahan," tegasnya.

Tak hanya itu, dia mengungkit kesepakatan pada tanggal 25 Agustus 2023. Di mana Anies Baswedan meminta secara resmi agar Ketum AHY bersedia untuk menjadi cawapresnya.

Baca Juga: FAKTA! Demokrat Dikepung 3 Koalisi Parpol Pendukung Pemerintah Usai Muhaimin Cawapres Anies, Sinyal Apa Ini?

Namun demikian, di tengah proses finalisasi kerja Parpol koalisi bersama capres Anies dan persiapan deklarasi, tiba-tiba terjadi perubahan fundamental dan mengejutkan.

Pada Selasa malam, 29 Agustus 2023, di Nasdem Tower, secara sepihak Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh tiba-tiba menetapkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai cawapres Anies, tanpa sepengetahuan Partai Demokrat dan PKS.

Baca Juga: Merk Kasur di Indonesia yang Menggunakan Natural Latex untuk Kualitas Tidur Optimal


"Malam itu juga, capres Anies dipanggil oleh Surya Paloh untuk menerima keputusan itu. Sehari kemudian, 30 Agustus 2023," ujarnya.

Di tengah keputusan Pimpinan Partai, Anies Baswedan tidak menyampaikan secara langsung keputusan itu kepada pimpinan tertinggi PKS dan Partai Demokrat, melainkan terlebih dahulu mengutus Sudirman Said untuk menyampaikannya.

"Rentetan peristiwa yang terjadi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat perubahan," tegasnya. ***