POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pasangan Capres Cawapres Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sepertinya tidak akan mendapat dukungan dari kalangan Nahdliyin atau NU.
Sinyal tak mendapat dukungan itu makin kuat pasca Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketua PBNU) Ishfah Abidal Aziz menyindir Cak Imin yang dinilai terlalu berlebihan menanggapi perihal ajakan salah satu menteri agar tidak memilih pemimpin menggunakan agama sebagai alat politik.
Padahal ajakaan itu, kata dia, merupakan bentuk komitmen para petinggi PBNU agar tidak menjadikan agama sebagai alat politik.
"Hasil Muktamar ke-28 tersebut adalah bentuk komitmen dari para kyai, ulama, santri, dan berbagai kalangan nahdiyin," kata Ishfah Abidal Aziz kepada wartawan, Jumat 13 Oktober 2023.
Baca Juga: Ajudan Firli Bahuri Diperiksa Ditreskrimsus Polda Metro Jaya Soal Pemerasan Eks Mentan SYL
Menurut Ishfah Abidal Aziz, seruan salah satu menteri itu justru sejalan dengan pedoman berpolitik warga NU.
Terlebih seruan melihat rekam jejak calon pemimpin juga merupakan langkah mengedepankan kemaslahatan umat.
"Tidak menggunakan agama sebagai alat politik meraih kekuasaan, adalah sikap yang mengedepankan kemaslahatan umum, dan upaya untuk terus menjaga nilai-nilai dasar kebangsaan," tegasnya.
Karena itu Ishfah Abidal Aziz beranggapan Muhaimin Iskandar sedang lelah karena tidak mampu mengendalikan suara warga NU.
Baca Juga: Motif Nada Mahasiswa Unnes Bunuh Diri di Mall Paragon Semarang Diungkap, Ada Cerita Sedih
"Muhaimin mungkin sedang lelah, atau mungkin sudah putus asa karena tidak bisa mengendalikan PBNU. Saran saya, kalau Muhaimin sudah merasa lelah, baiknya istirahat saja," tandasnya.
Seperti diketahui Menag Yaqut menyebut ada figur capres yang punya rekam jejak melakukan politisasi agama saat Pilgub DKI Jakarta tahun 2017.
Ia mengingatkan agar tak memilih pemimpin yang menggunakan agama untuk kepentingan politik. Meski ia meyakini politik tak akan terlepas dari agama.
"Kita punya sejarah tidak baik beberapa waktu yang lalu ketika pemilihan Gubernur DKI Jakarta kemudian dua Pilpres terakhir, agama masih terlihat digunakan sebagai alat untuk mencapai kepentingan kekuasaan," kata Yaqut.***
