POJOKSATU.id - Ternyata, sehari sebelum Airlangga Hartarto memutuskan mundur sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia lebih dulu menemui Presiden Jokowi di Istana Negara.
Bahlil menemui Presiden Jokowi usai salat Jumat. Keduanya terlihat duduk di salah satu kursi di Istana.
Dalam foto tersebut politikus Partai Golkar itu terlihat berbincang cukup serius.
Baik Jokowi maupun Bahlil sama-sama mengenakan kemeja warna putih.
Baca Juga: Opung Luhut Komentari Airlangga Mundur dari Ketum Golkar, Singkat Padat Jelas tapi Bikin Penasaran
Jokowi dengan songkok warna hitam melipat kedua tangannya di depan dada.
Sedangkan Bahlil yang dudu di depan Jokowi seperti tengah membicarakan sesuatu.
Akan tetapi tidak diketahui persis apa yang dibicarakan Presiden Jokowi dengan Bahlil saat itu.
Hanya saja sehari kemudian, Airlangga Hartarto mendadak mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
Dalam pernyataannya, salah satu alasan Airlangga mundur adalah untuk menjaga kesolidan dan keutuhan Partai Golkar.
Selain itu juga untuk menjaga stabilitas jelang peralihan pemerintahan.
Direktur Eksekutif Fixpoll Indonesia, Mohammad Anas RA, posisi ketua umum Golkar memang sangat seksi, sehingga siapa pun berminat menguasai partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Bahlil miliki syahwat politik pimpin Golkar, manuver ini sejak lama bergulir," kata Anas dikutip Pojoksatu.id dari Rmol.id, Minggu 11 Agustus 2024.
Lalu siapa sosok yang cocok menggantikan posisi yang ditinggalkan Airlangga.
Menurut Anas, sosok dimaksud adalah figur yang pernah duduk di pemerintahan.
Hal itu sesuai dengan kultur di Partai Golkar selama ini.
"Jika di internal, baik kader aktif dan kader tidak aktif, maka Bahlil masuk kategori itu," ujar dia.
"Jika mengarah figur eksternal maka Presiden Jokowi juga berpeluang," sambungnya.
Baca Juga: Menhan Prabowo Subianto Kembali Sumbangkan 100 Unit Mobil untuk Perawatan Masjid
Meski begitu, Anas menyebut siapapun pengganti Airlangga, tentu akan memiliki beban dan tugas berat.
Salah satunya adalah terkait kemenangan pada kontestasi politik ke depannya.***

