POJOKSATU.id - Wakil Ketua DPP Partai Nasdem Asep Wahyuwijaya menilai opini yang menyebutkan bahwa Partai Gerindra mengakuisisi Nasdem, terlalu berlebihan.

Menurutnya, istilah aliansi strategis antara Nasdem dengan Gerindra akan lebih elegan, dibandingkan akuisi yang justru merendahkan amanah rakyat yang menitipkan suaranya pada Nasdem

Ia meyakini Ketua Umum Nasdem Surya Paloh tidak akan gegabah dalam menentukan arah kebijakan partai. Terlebih, Nasdem didirikan tidak hanya untuk menjadi wadah berkumpulnya massa.

Baca Juga: Dadan Bos MBG Bantah Laptop 32 Ribu Unit, Tapi Akui Pengadaan Memang Ada! Ini Faktanya

"Lebih jauh dari itu, Nasdem didirikan karena adanya ide dan gagasan besar perubahan untuk kemajuan bangsa yang akan diwariskan kepada Republik Indonesia," tegas Asep Wahyuwijaya.

Politisi asal Kabupaten Bogor yang akrab disapa Kang AW itu menegaskan bahwa Nasdem lahir dan besar dengan nilai dan cita-cita besar, dengan jumlah pemilih yang juga besar.

Bahkan, kader aktif sudah jutaan, pengurusnya sudah ratusan ribu, serta memiliki ribuan anggota di parlemen.

Baca Juga: Venue Semifinal dan Final Liga 4 Piala Gubernur Sumut Resmi Dipindah ke Stadion Mini Pancing

"Partai Nasdem sekarang sudah menjadi domain atau milik publik. Setiap kali pemilihan legislatif, kursinya terus bertambah dan banyak kepala daerah terpilih dari Partai NasDem," tegas Kang AW.

Anggota Komisi VI DPR itu menambahkan, Surya Paloh selaku inisiator utama partai politik ini didirikan pasti merasa bangga atas apa-apa yang dilakukannya dahulu. 

"Pak Surya Paloh adalah sosok politisi yang sudah telah selesai dengan urusan dirinya dan keluarganya. Beliau membangun Gedung DPP Partai Nasdem yang dikenal dengan nama Nasfem Tower di salah satu kawasan paling elit ibu kota, Menteng, menjadi kantor parpol termegah se-Indonesia dan bahkan se-Asia Tenggara, dimana semuanya akan menjadi warisan untuk rakyat Indonesia melalui partai yang didirikannya dengan nilai dan cita-cita besar," ungkapnya.

Baca Juga: Dispar Sukabumi Soroti Aksi Pria Berpakaian Minim di Kampung Adat

Sebagai pengusaha besar sekaligus politisi ulung, Surya Paloh pun sangat paham bagaimana memperlakukan usahanya dan bagaimana semestinya juga memperlakukan sebuah partai politik.

"Kerja-kerja partai politik tidak bisa disamakan dengan aksi korporasi sebuah entitas usaha. Jadi menurut hemat saya, opini atau framing berita yang menulis seolah-olah Partai NasDem adalah sebuah PT atau perusahaan tentunya bisa dikategorikan merendahkan suara rakyat yang telah memilih dan menitipkan amanatnya kepada Partai Nasdem," kata dia.

Menurutnya menegaskan, jika berbicara penggabungan dalam konteks politik, barangkali lebih elok dan elegan jika Partai Gerindra dengan Partai Nasdem itu melakukan semacam aliansi strategis.

Baca Juga: Delegasi Parlemen Berbagai Negara Bahas Perang Iran dengan AS, Sudah Picu Dampak Global

"Bobotnya akan jauh lebih bermakna dengan koalisi yang maknanya bisa jadi cenderung fragmatis karena aliansi strategis itu ikatannya lebih karena komitmen atas nilai dan cita-cita demi kemajuan bangsa tanpa harus terjebak dengan misalkan bagi-bagi jatah kursi di kabinet. Dengan dukungan Partai Nasdem ke Presiden Prabowo tanpa imbalan kursi menteri, seakan-akan sedang mengajarkan kepada seluruh rakyat Indonesia ini akan pentingnya moral politik karena sikap tahu diri karena pada Pilpres 2024 lalu, Partai Nasdem tidak mengusung Prabowo Subianto," tegasnya. ***