POJOKSATU.id, JAKARTA— Sekretaris Jenderal (Sekjen) Angkatan Muda Prabowo (Ampera) Bayu Putro meminta semua pihak berpikir jernih dalam kasus penganiayaan Boyolali, Jateng.
Kasus penganiayaan warga yang kebetulan relawan ini terjadi di depan Pos Jaga Jalan Perintis Kemerdekaan, Sabtu (30/12) lalu.
Diketahui, kasus penganiayaan oleh anggota TNI dari kompi B Yonif Raider 408/SBH Boyolali terhadap warga yang kebetulan Relawan Ganjar-Mahfud MD di Jalan Perintis Kemerdekaan, Sabtu (30/12) lalu, jangan dibawa ke ranah politik.
Banyak pihak yang berpendapat insiden penganiayaan itu dilakukan oleh oknum TNI kepada warga yang menggeber motornya dan kebetulan warga itu merupakan relawan Ganjar-Mahfud MD.
Baca Juga: Praktisi Hukum Karawang Puji Kinerja Kapolres dan Jajaran
Sekjen Angkatan Muda Prabowo (Ampera) Bayu Putro meminta seluruh pihak untuk berpikir jernih dalam peristiwa ini.
“Jangan bawa ini ke arah politis. Ada baiknya bisa melihat kejadian secara utuh dari masing-masing pihak, awal mula perselisihan,” katanya.
“Awalnya sejumlah anggota TNI yang sedang bermain voli merasa terganggu dengan knalpot bising dari oknum relawan,” kata Bayu Putro, Senin (1/1).
Sebagai relawan, dia juga mengimbau kepada seluruh pendukung Prabowo-Gibran untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang melanggar peraturan serta ketertiban masyarakat.
“Ini juga catatan bagi para relawan lainnya terkait etika di dalam kampanye dan menyampaikan aspirasi di depan umum sesuai dengan aturan yang ada,” kata dia.
Terkait peristiwa Boyolali, pihaknya meminta agar proses hukum yang adil dan transparan benar-benar dijalankan oleh jajaran Mabes TNI dan Kodam IV Diponegoro.
“Adapun proses hukum yang sedang berjalan, harus tersampaikan secara transparan dan tegas agar tidak timbul perspektif liar di masyarakat serta menjaga kondusifitas di tengah pesta demokrasi yang sedang berlangsung saat ini,” tegasnya.***

