POJOKSATU.ID- Persaudaraan Alumni 212 atau PA 212, GNPF Ulama juga Front Persaudaraan Islam (FPI) belum bisa menentukan arah politiknya pada Pilpres 2024 mendatang.

Termasuk ketiga ormas tersebut menutup pintu arah dukungannya terhadap capres Prabowo Subianto.

Alasan pihaknya menutup dukungan terhadap Ketum Gerindra itu, karena pada Pilpres 2019 lalu, dukungan 3 ormas besutan Habib Rizieq yang pernah diberikan kepada Prabowo Subianto itu merasa dikhianati.

Baca Juga: Siskaeee Penuhi Panggilan Pemeriksaan Film Asusila, Ada Something Blue di Tangannya lalu Bilang 'Sorry'

Berikut 4 fakta ogahnya PA 212, GNPF Ulama, dan FPI tutup dukungan terhadap Prabowo Subianto di Pilpres 2024 mendatang.

1. Merasa Dikhianati

Dukungan yang diberikan ormas islam, terutama PA 212, GNPF Ulama, dan FPI pada Pilpres 2019 lalu terhadap pasangan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno sepertinya hanya sia-sia belaka.

Hal itu diceritakan Ketua Majelis Syuro Persaudaraan Alumni 212 atau PA 212 Yusuf Martak.

Saat itu, kata dia, pihaknya telah mendukung Prabowo sebagai capres. Namun, ia menganggap dukungan ulama, umat hingga emak-emak yang telah diberikan kala itu ditinggal begitu saja oleh Prabowo usai Pilpres 2019 berakhir.

Baca Juga: Pantai Watu Lumbung, Pantai Cantik dengan Daya Tarik Unik

Padahal dukungan ke Prabowo Subianto, diberikan secara sukarela dan tanpa dibiayai sedikitpun.

Malah Prabowo Subianto milih tawaran politik yang menjanjikan dari bekas lawan politiknya yaitu Jokowi, tanpa memperhitungkan masukan-masukan para ulama dan umat islam.

"Itu umat yang berjuang begitu kuat sejak 8 sampai 9 bulan, para ulama, habaib, emak-emak akhirnya ditinggal begitu saja," kata Yusuf.

2. Ungkit Kala Habib Rizieq di Penjara

Salah satu alasan utama 3 ormas besutan Habib Rizieq itu meras jera memberikan dukungan terhadap Prabowo Subianto, yakni tidak adanya keberpihakan Ketum Gerindra itu saat HRS tidak bisa pulang ke Indonesia kala itu.

Baca Juga: Soal Kematian Brigadir Setyo Herlambang, Polri Diminta Berkaca Pada Kasus Ferdy Sambo yang Banyak Rekayasa

Ditambah lagi, saat HRS dipenjara terkait kasus pelanggara karantina kesehatan atau Covid-19.

Atas hal inilah, PA 212, FPI dan GNPF Ulama tak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi. Baginya, tak ingin mengulangi kesalahan dalam memberikan dukungan pada Pilpres 2024 mendatang.

"Gabung ke pemerintah tidak kita permasalahkan. Tapi bagaimana dengan pejuang-pejuang ada yang di tahan, di rumah sakit, Habib Rizieq tak bisa kembali ke Indonesia," ujar Yusuf Martak.

3. Ungkit Pertemuan dengan Prabowo di 2019

Baca Juga: Agensi Grup Kingdom Minta Maaf ke Umat Islam, Buang 70 Ribu Sampul Album yang Desainnya Mirip Alquran

Yusuf Martak menceritakan awal-awal dirnya bertemu dengan Prabowo Subianta saat Pilpres 2019 lalu.

Kala itu dirinya bertemu langsung di ruangan Prabowo Subianto dan memohon-mohon meminta dukungan kepada PA 212.

Namun lagi-lagi, saat itu Yusuf Martak mempertanyakan keseriusan Prabowo Subianto saat mendapat dukungan dari PA 212.

Akan tetapi saat itu, Prabowo Subianto menyampaikan agar dukungan dari umat Islam tidak terlalu menyolok, sehingga seolah-olah PA 212 netral dalam Pilpres 2019.

Baca Juga: Jelang Pemilu KID Kabupaten Cirebon Tingkatan Kerja sama Antar Lembaga

Bahkan Prabowo Subianto juga sempat menjanjikan kekuasaan apabila Alumi 212 bersedia memberikan dukungan dalam Pilpres 2019 dan memenangi pilpres tersebut.

Akan tetapi, PA 212 tidak terlalu behitung terhadap janji-janji politik yang ditawarkan Prabowo Subianto itu.

"Nanti kalau sudah memimpin, saya jadi presiden, saya pasti akan berikan peluang-peluang dalam arti kata di posisi-posisi dan sebagainya," ujarnya.

4. Dukungan Akan Dideklarasi Setelah Pendataran Capres.

Baca Juga: KKMI Karawang Launching Koperasi KKMI Karya Mukti

Arah dukungan politik PA 212, FPI dan GNPF Ulama akan didekrasikan setelah pendaftaran capres-cawapres ke KPU pada Oktober mendatang.

Alasannya hingga saat ini, sejumlah capres belum mempunyai pasangan cawapresnya. Hal itulah yang menjadi pertimbangan tiga ormas tersebut belum mendeklarasikan dukingan.

Namun lagi-lagi dukungan tiga ormas itu belum dibocorkan akan berlabuh kepada pasangan capres-cawapres yang mana.

"Sebelum pendaftaran atau setelah pendaftaran. Kita enggak mau seperti beli kucing dalam karung," ungkap Martak. ***


Reporter : Firdausi