POJOKSATU.id, SUZHOU - Para jago bulutangkis dunia tengah bertanding di turnamen bergengsi Piala Sudirman atau Sudirman Cup 2023, membela negara masing-masing.
Turnamen beregu ini digelar di Suzhou Olympic Sports Centre, Suzhou, China, pada 14 Mei hingga 21 Mei 2023 oleh Asosiasi Bulu Tangkis Tiongkok di bawah naungan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).
Ini merupakan Piala Sudirman edisi ke-18, sejak pertama kali dilaksanakan pada 1989 di Jakarta.
Sejarah Piala Sudirman
Piala Sudirman adalah turnamen beregu campuran yang terdiri dari lima nomor, yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran.
Turnamen Piala Sudirman diambil dari nama tokoh bulu tangkis Indonesia, Dick Sudirman, dikutip dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).
BACA JUGA : Hasil Piala Sudirman 2023 : Indonesia Libas Kanada 5-0
Dick Sudirman, yang lahir pada 19 April 1922 di Pematang Siantar, Sumatera Utara, adalah mantan atlet bulu tangkis Indonesia yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan bulu tangkis nasional dan dunia.
Sudirman adalah salah satu pendiri Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan menjabat sebagai ketua PBSI selama 22 tahun, dari 1952 hingga 1963 dan 1967 hingga 1981.
Selain itu, Sudirman juga pernah menjadi wakil presiden Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF).
Jasa terbesar Dick Sudirman dalam dunia bulutangkis adalah menyatukan IBF dan WBF (World Badminton Federation).
Pada 1978, WBF memisahkan diri dari IBF, tetapi Sudirman berhasil memediasi pertemuan kedua organisasi tersebut di Bandung pada 1979.
BACA JUGA : Profil Habib Bahar Smith, Pendakwah Asal Manado Kerap Bersentuhan dengan Hukum
Usulan Sudirman untuk menggelar pertandingan persahabatan antara pemain dari kedua federasi diterima, dan pada 28 Mei 1981, IBF dan WBF bersatu dan dikenal sekarang sebagai BWF.
Setelah Sudirman meninggal pada tahun 1986, Suharso Suhandinata yang merupakan sahabat Sudirman dan Wakil Ketua PBSI saat itu, mengusulkan pembentukan kompetisi sebagai penghormatan kepada Sudirman.
Usulan tersebut disetujui oleh Dewan IBF pada tahun 1986.
Pada tahun 1988, IBF membuka kemungkinan untuk mengadakan kejuaraan beregu campuran dunia dan Indonesia menerima tawaran sebagai tuan rumah.
Piala Sudirman edisi pertama diadakan pada tahun 1989 di Jakarta, dan Indonesia berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2 dalam pertandingan final.
Sejak itu, Piala Sudirman diselenggarakan setiap dua tahun. China adalah negara dengan jumlah gelar juara terbanyak, yaitu 11 kali.
BACA JUGA : Cabor E-Sport Sumbang Medali Emas ke-70, Indonesia Lampaui Target SEA Games 2023
Antara lain pada tahun 1995, 1997, 1999, 2001, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013, 2015, 2019, dan 2021.
Disusul Korea dengan empat kali jadi juara Piala Sudirman, masing-masing pada edisi tahun 1991, 1993, 2003 dan 2017.
Sementara Indonesia yang notabene negara cikal bakal turnamen ini baru sekali jadi kampiun. Yaitu pada edisi perdana tahun 1989.
Trofi Piala Sudirman
Desain trofi Piala Sudirman memiliki karakteristik Indonesia yang sangat kuat dan unik.
Trofi Piala Sudirman didesain oleh Rusnadi dari Fakultas Seni Rupa ITB dan terdiri dari lima bagian.
Bagian puncak trofi, yang memiliki tinggi 80 cm, menampilkan ukiran replika Candi Borobudur yang terbuat dari perak dan dilapisi emas 22 karat.
Bagian badan trofi berbentuk shuttlecock (kok) yang dilapisi emas 22 karat dengan berat 600 gram.
Pegangan trofi memiliki bentuk benang sari.
Bagian keempat dari trofi Piala Sudirman berbentuk daun sirih sebagai ornamen selamat datang.
Bagian kelima trofi tersebut berbentuk segi delapan atau oktagon yang melambangkan arah mata angin. Bagian ini terbuat dari kayu jati.
Pembuatan trofi Piala Sudirman dilakukan oleh PT Masterix Bandung dengan biaya sekitar 15.000 dolar AS atau sekitar Rp 27 juta (kurs waktu itu).
Editor: Jumaidil Halide

