Soal Rencana BWF Ubah Sistem Poin, Begini Respon Pelatih Ganda Putra

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo bersama pelatihnya, Herry IP usai menjuarai All England 2018. (Twitter HerryIP)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pelatih kepala ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi membagikan pendapatkan soal rencana BWF mengubah sistem skor dari 21 poin best of three games menjadi 11 poin best of five games.


Herry mengaku, pihaknya tidak terlalu mencemaskan hal tersebut. Sebab, dalam sesi latihan sehari-hari, dirinya sudah sering menerapkan sistem tersebut.

Meski begitu, menurutnya, ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan jika BWF ingin mengubah sistem.

“Ini kan tidak boleh dilihat dari satu sisi saja. Banyak kepentingan. Karena PBSI di bawah BWF, apa pun keputusannya pasti diikuti,” kata Herry.


“Tetapi, sebelum itu, tentu harus ada musyawarah. Apakah mau setuju atau tidak setuju,” sambungnya.

Lebih lanjut, Herry mengatakan, pihak siap-siap saja andai suatu saat sistem itu diterapkan. Memang gaya bermain dan fisik pemain Asia bakal memengaruhi. Namun, dia hanya perlu mempersiapkan anak-anak didiknya untuk beradaptasi.

Sebab, program latihan yang nanti dia susun dan terapkan kepada pemain ikut terpengaruh.

Herry menuturkan, dengan sistem poin 11 x 5, kunci utamanya adalah proses warming up atau pemanasan. Pemain harus benar-benar berada dalam kondisi siap. Sebab, game akan berlangsung sangat singkat. Berbeda dengan game 21 x 3 yang durasinya relatif lebih lama.

“Buat pemain yang telat panas, itu (11 x 5) problem banget. Menyiasatinya, warming up harus lama,” tutur Herry.

Masalahnya, lanjut Herry, wajib ada lapangan warming up untuk turnamen elite. “Tetapi, untuk turnamen yang kecil, kadang tidak ada. Itulah salah satu faktor yang harus dipikirkan sebelum BWF mengambil keputusan. Mereka cuma memutuskan di atas kertas. Namun, orang yang menjalaninya di lapangan yang menemui banyak kendala,” imbuhnya.

Terkait dengan adaptasi, sistem poin 11 x 5 juga bakal mengubah pola latihan. Dengan 11 poin, pemain harus lebih cepat. Baik dari segi antisipasi maupun reaksi.

(jpc/pojoksatu)