Hasil China Open 2018: Ganda Putra Sempurna, Georgia Singkirkan Wakil Tuan Rumah

thailand open 2019, the minions
Marcus Fernaldi Gideon (kanan) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo, ganda putra Indonesia yang dijuluki The Minions. (BadmintonIndonesia)

POJOKSATU.ID, CHANGZHOU – Empat dari lima ganda putra Indonesia di China Open 2018 melewati babak pertama dengan mulus. Tunggal putri Georgia Mariska Tanjung juga lolos, sementara Jonatan Christie saat ini masih bertanding.


Satu-satunya ganda putra Indonesia yang tersingkir di babak pertama adalah Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf Santoso. Namun Wahyu/Ade tersingkir oleh rekan senegaranya yang juga unggulan pertama di turnamen ini, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Marcus/Kevin harus kerja keras hingga tiga game untuk mengalahkan Wahyu/Ade dengan skor 17-21, 21-13, 21-13.

Kompak, Persib dan Persija Ogah Laga Diundur!

Di game pertama, Kevin/Marcus tak dapat menguasai keadaan, mereka terus dikontrol oleh Wahyu/Ade. Kondisi lapangan dan shuttlecock ternyata menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi permainan mereka di game pertama.


“Kami masih adaptasi lapangan di pertandingan pertama ini, karena beda sekali dengan di Jepang kemarin. Di sini shuttlecock nya kencang, jadi banyak pukulan yang harus benar-benar lebih dikontrol,” ungkap Kevin setelah pertandingan.

“Hari ini Wahyu/Ade tampil baik, mereka tidak mudah ‘dimatikan’, mainnya lebih safe, kualitas bolanya cukup menyulitkan. Di game kedua dan ketiga kami lebih berani adu pukulan, lebih tenang dan sabar. Kami memang sudah menyangka akan ramai karena di latihan susah juga menghadapi mereka,” tambah Kevin.

Prediksi Skor Mbah Judeng untuk 8 Laga UCL Malam Ini, Termasuk Valencia Vs Juventus

Pekan lalu di Japan Open 2018, Kevin/Marcus juga bertemu dengan Wahyu/Ade di babak 16 besar. Kala itu mereka menang straight game dengan skor 21-13, 21-17. Namun kali ini Kevin/Marcus merasa Wahyu/Ade tampil lebih baik.

“Kali ini Wahyu/Ade lebih siap, mereka lebih mendahului kami di permainan depan. Apalagi shuttlecock di sini cukup kencang, jadi waktu kami mengarahkan bola ke atas saat mau kontrol terkadang out. Waktu smash pun terasa tidak pas,” bebernya.