Jalan di Tempat, Pebulutankis Putri Harus Ubah Cara Bermain

POJOKSATU- Pebulutangkis tunggal putri Indonesia seolah jalan di tempat. Realitas ini membuat mantan pelatih pelatnas Liang Chiu Hsia angkat bicara. Juara tunggal putri Tiongkok di era 1960-an yang pernah membawa Susi Susanti menjadi juara Olimpiade Barcelkna 1992 ini mengatakan, pemain tunggal putrid Indonesia harus mengubah cara bermainnya bila ingin meraih prestasi maksimal.

“ Yang paling mendasar adalah mengubah cara main. Coba lihat, pemain Jepang yang posturnya pendek-pendek saja mampu mengalahkan pemain Tiongkok yang posturnya lebih tinggi. Seharusnya, kita bisa mempelajari bagaimana cara pemain Jepang tersebut bermain,” ujar Liang Chiu Hsia yang juga kerabat dekat mantan pemain ganda elit Indonesia pada 1970-an, TjunTjun.

Chiu Hsia sendiri merasa sedih melihat prestasi tunggal putri yang belum kujung membaik. Padahal, kata dia, waktu ia menangani pelatnas, Lindaweni mampu mengalahkan pemain nomor satu Tiongkok, Wang Yihan.” Saya sebenarnya tidak mau mengomentari pretasi Lindaweni  dan Bellaetrix. Saya sudah tidak berada di pelatnas lagi. Tapi memang saya sedih melihat pretasi mereka,” ungkap Chiu Hsia yang pernah menangani Linda dan Bela saat melatih di pelatnas.

Ia menambahkan,  sebenarnya secara teknik dan fisik  Linda dan Bela sudah cukup baik.  Seharusnya, mereka berada di deretan pemain papan atas kelas dunia lainnya. Namun, itu semua berpulang kepada mereka untuk berlatih lebih keras lagi. “ Yang paling penting mempelajari pemain lawan dan mengubah cara main. Saya yakin kalau ini dilakukan prestasi tunggal putri akan membaik,” paparnya.


Sementara itu, para atlet penghuni Pelatnas Cipayung sudah kembali menjalankan aktivitas latihan di awal 2015. Setelah dipulangkan ke klub masing-masing pada akhir tahun lalu, kini seluruh atlet yang namanya tertera dalam daftar pemanggilan atlet 2015 yang dirilis PBSI pada 30 Desember 2014, sudah memulai rutinitas di pelatnas.

Latihan perdana dibuka dengan tes fisik yang dipandu tim pelatih fisik PBSI. Tes dilangsungkan selama dua hari pada 5-6 Januari 2015 dan diberlakukan untuk seluruh atlet tanpa kecuali, termasuk para juara dunia seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

“Tes ini memang sudah kami rencanakan sejak tahun lalu untuk melihat gambaran kondisi fisik atlet di awal 2015. Hal ini bermanfaat sebagai pendukung menyusun program latihan sepanjang tahun ini ,” ujar Felix Ary Bayu Marta, pelatih fisik PBSI.

Tes dimulai dengan pendataan tinggi dan berat badan atlet. Ada pun jenis tes yang dilakukan cukup beragam, di antaranya Beep Test, Strength Endurance Test (sit up, push up, skipping rope), Power Test (vertical jump dan medicine ball throw), Speed Test ( rast test – sprint sejauh 35 meter sebanyak enam kali), Flexibility Test ( sit and reach), Shoulder Flexibility Test dan Court Agility.

“Hasil tes masih kami proses dan belum terlihat hasil keseluruhannya. Apapun hasilnya nanti, para atlet tetap harus bekerja keras untuk meningkatkan kondisi fisik mereka di tahun 2015 ini,” pungkas Felix. (bam)