POJOKSATU.id - Sebelum nama Moh Zaki Ubaidillah dielu-elukan sebagai pahlawan kemenangan, Alwi Farhan lebih dulu menjaga Indonesia tetap hidup.

Final beregu putra Asian Games 2026 sempat berubah menjadi malam panjang bagi skuad Merah Putih.

Indonesia tertinggal 0-2 dari China setelah Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri kehilangan pertandingan.

Jonatan menyerah kepada Shi Yu Qi dengan skor 13-21 dan 18-21 pada pertandingan pembuka final tersebut.

Baca Juga: Indonesia Hentikan Mimpi China Cetak Hattrick Emas Beregu Putra Asian Games

Fajar/Fikri kemudian gagal menyumbangkan angka setelah dikalahkan Liang Wei Keng/Wang Chang melalui pertandingan tiga gim.

Situasi itu membuat Alwi memasuki lapangan dengan tekanan yang tidak ringan bagi dirinya.

Tunggal putra kedua Indonesia tersebut tahu kekalahan berarti emas semakin dekat dengan genggaman China.

Namun, Alwi tidak membiarkan tekanan tersebut mengubah cara bermainnya menghadapi Li Shi Feng.

Ketika Harapan Tinggal Satu Poin

Pertandingan berlangsung sengit sejak awal, dengan kedua pemain saling mengejar angka dalam tempo permainan cepat.

Baca Juga: Dari Bangkok 1998 ke Aichi-Nagoya 2026, Indonesia Kembali Kalahkan China di Final Asian Games

Alwi akhirnya merebut gim pertama 23-21 setelah mampu mempertahankan ketenangan pada poin-poin krusial.

Li kemudian bangkit dan memenangkan gim kedua dengan skor 21-15, memaksa pertandingan memasuki gim penentuan.

Pada gim ketiga, Alwi kembali menemukan ritmenya dan memimpin 11-7 ketika interval berlangsung.

Keunggulan tersebut tidak disia-siakan hingga akhirnya Alwi menutup pertandingan dengan kemenangan 21-16.

Satu kemenangan itu mengubah suasana final secara perlahan dan memperkecil ketertinggalan Indonesia menjadi 1-2.

Alwi tidak sekadar memenangkan pertandingan, tetapi mengembalikan keyakinan rekan-rekannya untuk mengejar emas.

Baca Juga: Dari Tertinggal 0-4 hingga Mengunci Emas, Drama Zaki Ubaidillah di Partai Penentuan

Ia mengaku bersyukur kembali mendapat kepercayaan tampil dalam situasi Indonesia sedang berada dalam tekanan.

"Alhamdulillah kembali dipercaya sebagai pemain yang diturunkan, saya harus tanggung jawab dan menunjukkan respons positif," kata Alwi.

Setelah Alwi membuka jalan, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin mengambil alih momentum tersebut.

Leo/Daniel mengalahkan He Ji Ting/Liu Yi 23-21 dan 21-10 untuk membuat kedudukan kembali imbang 2-2.

Dari Alwi Menuju Pahlawan Terakhir

Kesempatan akhirnya berpindah kepada Zaki Ubaidillah dalam pertandingan kelima yang sangat menentukan.

Baca Juga: Gagal ke Final Asian Games 2026, Tim Badminton Putri Indonesia Dipastikan Raih Medali Perunggu

Pemain muda tersebut menghadapi Weng Hong Yang ketika seluruh perjuangan Indonesia ditentukan dalam satu pertandingan.

Zaki sempat berada dalam posisi sulit setelah Weng mencapai game point pada kedudukan 20-16.

Namun, Zaki mencetak lima angka beruntun dan membalikkan keadaan sebelum akhirnya merebut gim pertama 23-21.

Kepercayaan dirinya meningkat pada gim kedua hingga Zaki mampu mengamankan kemenangan 21-13.

Indonesia pun menang 3-2 sekaligus mengakhiri penantian 28 tahun untuk emas beregu putra Asian Games.

Nama Zaki memang menjadi penutup kisah, tetapi kebangkitan Indonesia dimulai ketika Alwi menolak menyerah.

Di antara ketertinggalan 0-2 dan kemenangan 3-2, terdapat sebuah pertandingan yang mengubah arah cerita.

Pertandingan itu menjadi milik Alwi Farhan, pemain yang terlebih dahulu menyelamatkan harapan sebelum Zaki mengunci emas.***