POJOKSATU.id — Penyelenggara kompetisi kebugaran internasional Hyrox akhirnya menyampaikan permintaan maaf terkait insiden yang melibatkan seorang atlet yang tetap mengikuti perlombaan setelah mengalami kejadian buang air besar (BAB) di arena pertandingan.

Peristiwa tersebut berlangsung dalam gelaran Hyrox di Beijing, China, Sabtu (12/9/2026).

Keputusan untuk tetap menjalankan pertandingan tanpa menghentikan atlet maupun perlombaan kemudian menuai sorotan luas, khususnya menyangkut persoalan kebersihan dan potensi risiko bagi peserta lain.

Co-founder Hyrox, Moritz Furste, menyampaikan penyesalan atas cara panitia menangani kejadian tersebut.

Baca Juga: Scooby-Doo Origins Tayang di Netflix 2027, untuk Pertama Kalinya Scooby-Doo Diperankan Anjing Asli

Ia mengakui bahwa respons terhadap situasi di arena tidak dilakukan dengan cukup cepat.

“Saya meminta maaf kepada semua pihak yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung, serta kepada siapa pun yang merasa kami tidak menangani situasi ini sebagaimana mestinya,” kata Furste, dikutip dari AFP.

Menurut Furste, penyelenggara memang memiliki kekurangan dalam menghadapi insiden tersebut.

Ia menilai tindakan seharusnya dilakukan segera ketika kejadian diketahui oleh pihak yang bertugas di lokasi.

“Hyrox melakukan kesalahan karena tidak segera bereaksi saat perlombaan berlangsung,” ujarnya.

Baca Juga: 560 Tabung LPG 3 Kg Diamankan Bareskrim di Tangsel, Pertamina Pastikan Penyaluran Terus Diawasi

Furste mengatakan dirinya bertanggung jawab atas kekurangan tersebut.

Sebagai tindak lanjut, Hyrox disebut telah memperkenalkan prosedur serta ketentuan baru yang ditujukan untuk mengantisipasi kejadian serupa pada kompetisi mendatang.

Namun, hingga pernyataan tersebut disampaikan, Furste belum membeberkan secara spesifik bentuk perubahan aturan maupun prosedur yang kini diberlakukan oleh Hyrox.

Sebelumnya, Hyrox China belum memberikan permintaan maaf secara langsung atas kejadian tersebut.

Penyelenggara hanya mengakui bahwa terdapat kelemahan dalam ketentuan pertandingan yang membuat petugas di lapangan memiliki keterbatasan dalam mengambil tindakan.

Akibatnya, juri tidak mempunyai kewenangan yang jelas untuk menghentikan pertandingan atau melakukan intervensi secara langsung ketika insiden tersebut berlangsung.

Baca Juga: KIP Kuliah 2026 Masih Dibuka hingga 31 Oktober, Cek Cara Daftar dan Tahapan Pencairan Dananya

Kejadian tersebut melibatkan Joanna Wietrzyk, atlet asal Australia yang mengalami faecal incontinence atau kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengendalikan buang air besar saat beraktivitas.

Rekaman foto dan video yang kemudian beredar di media sosial menunjukkan adanya dampak insiden tersebut pada bagian kaki dan sepatu Wietrzyk.

Kendati demikian, ia tetap meneruskan perlombaan karena tidak ada tindakan penghentian dari pihak penyelenggara.

Selama pertandingan berlangsung, Wietrzyk juga masih menggunakan berbagai fasilitas yang tersedia di arena, termasuk peralatan olahraga dan matras.

Baca Juga: Mobil Fortuner Tertabrak Kereta Api di Bangsalsari Jember, KAI Ingatkan Bahaya Terobos Perlintasan

Data pada laman resmi Hyrox menunjukkan bahwa atlet tersebut pada akhirnya berhasil meraih posisi pertama di kategori yang diikutinya.

Keputusan untuk mempertahankan jalannya pertandingan kemudian memunculkan pertanyaan mengenai standar kebersihan di area kompetisi.

Peserta lain tetap harus menggunakan fasilitas yang sama selama menyelesaikan rangkaian tantangan dalam perlombaan.

Baca Juga: OMI Kemenag 2026 Tingkat Provinsi Segera Digelar, Cek Kisi-Kisi, 25 Soal dan Jadwal Lengkap

Beberapa fasilitas yang menjadi perhatian mencakup matras dan pegangan peralatan yang digunakan secara bergantian oleh peserta.

Area lintasan lari juga menjadi sorotan karena termasuk bagian dari jalur pertandingan yang harus dilewati atlet.

Polemik tersebut selanjutnya ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial China, salah satunya Weibo.

Sebagian pengguna mempertanyakan alasan panitia tidak segera mengambil tindakan dengan mempertimbangkan kondisi area pertandingan dan dampaknya terhadap peserta lainnya.

Tidak hanya panitia, kepemimpinan juri juga mendapatkan kritik dari sejumlah pengguna media sosial.

Baca Juga: Rombak Susunan Pejabat, Bupati Jember Gus Fawait Taruh Figur Muda di Kecamatan dan Genjot Program Berobat Gratis

Salah satu komentar bahkan menuding adanya perlakuan berbeda terhadap atlet asing.

Pernyataan tersebut merupakan pendapat pengguna Weibo dan bukan kesimpulan resmi dari penyelenggara.

Hyrox adalah ajang kebugaran indoor yang memadukan aktivitas berlari dengan sejumlah tantangan fisik yang dirancang untuk menguji kekuatan dan daya tahan peserta.

Format perlombaan mengharuskan atlet menyelesaikan beberapa sesi lari yang diselingi latihan fisik.

Jenis tantangan yang dilakukan antara lain lunges dan latihan mendayung.

Baca Juga: Aris Sanda yang Ditembak KKB Ternyata Sudah 13 Tahun Bekerja Sebagai Sopir di Wamena

Kompetisi ini pertama kali diperkenalkan di Jerman pada 2018. Dalam perkembangannya, Hyrox kemudian menjadi kompetisi kebugaran berskala internasional dan digelar di berbagai negara.

Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga tersebut juga mengalami pertumbuhan popularitas di China.

Kontroversi yang muncul dari kompetisi di Beijing menjadi perhatian bagi penyelenggara untuk memperbaiki mekanisme penanganan kejadian tak terduga selama perlombaan.

Hyrox menyatakan telah melakukan perubahan prosedur sebagai upaya mencegah insiden serupa terjadi kembali.***