Red Bull Pertimbangkan Mundur, F1 Dinilai Sudah Membosankan

TIDAK KOMPETITIF: Driver Red Bull Racing Daniil Kvyat saat akan balapan di GP Australia. AFP PHOTO / POOL / MARK DADSWELL
TIDAK KOMPETITIF: Driver Red Bull Racing Daniil Kvyat saat akan balapan di GP Australia. AFP PHOTO / POOL / MARK DADSWELL
TIDAK KOMPETITIF: Driver Red Bull Racing Daniil Kvyat saat akan balapan di GP Australia. AFP PHOTO / POOL / MARK DADSWELL

POJOKSATU – Tanda-tanda akan terulangnya hasil musim lalu, dimana tim Mercedes GP tampil sangat dominan sudah terlihat di Grand Prix Formula 1 Australia akhir pekan lalu. Duo Mercedes, Lewis Hamilton dan Nico Rosberg tak tersentuh sejak latihan bebas hingga balapan.

Suara-suara sumbang pun mulai muncul. Setelah Felipe Massa yang curiga timnya, Williams, tak mendapat suplai mesin terbaik dari Mercedes, kini giliran Red Bull yang menyuarakan protes atas regulasi mesin F1 yang membuat Mercedes terlalu perkasa. Sementara sebaliknya, kebanyakan tim kesulitan mendapatkan mobil kompetitif. Saat Red Bull berkuasa, memang selisih poin di klasemen pembalap tidak terlalu jomplang seperti musim lalu.

Presiden Red Bull, Helmut Marko, bahkan mengatakan timnya serius mempertimbangkan untuk mundur dari balapan F1 karena dinilai sudah membosankan untuk dilihat atau dilakoni. Tim yang dulu pernah berjaya selama empat musim beruntun (2010-2013) lewat Sebastian Vettel, sebenarnya jadi satu-satunya tim yang bisa tiga kali mencuri kemenangan dari Mercedes musim lalu.
Tapi memasuki musim 2015, tim berlambang banteng mengamuk itu kesulitan bersaing di barisan depan. Di GP Australia kemarin, Daniil Kvyat gagal melewati start karena masalah gearbox, sedangkan Ricciardo finis dengan jarak satu lap di peringkat keenam. “Kami akan mengevaluasi situasi ini kembali setiap tahunnya dengan melihat pengeluaran dan pemasukan tim. Jika kami secara umum merasa tak puas, kami bisa mengambil keputusan untuk mundur dari F1. Yang bahaya adalah ketika tuan (Dietrich) Mateschitz (pemilik Red Bull) sudah kehilangan gairahnya di olahraga F1 ini,” ujar Marko seperti dilansir dari Crash.

Senada dengan Marko, Prinsipal Red Bull, Christian Horner juga mengeluhkan timpangnya kekuatan antara Mercedes dengan tim-tim lainnya. Meskipun memberi pujian atas hasil karya pabrikan mesin asal Jerman itu, Horner merasa balapan akan sangat membosankan jika hasilnya sudah bisa ditebak sebelum balapan dimulai.


“Mercedes punya mobil yang luar biasa, mesin yang fantastis, dan mereka punya dua pembalap yang sangat bagus. Tapi masalahnya adalah ketimpangannya terlalu jauh, dan itu tidak sehat buat F1. Ketika kami jadi juara, kami tak pernah menang dengan keunggulan begitu besar seperti mereka,” kata Horner.

“Anda harus ingat bahwa dulu semua keunggulan kami seperti doube diffuser dulu dihentikan, exhaust dipindah, flexible bodywork juga dilarang. FIA sesuai kewenangannya juga punya mekanisme yang seimbang saat ini, dan saya rasa mungkin ini saatnya mereka melihat kembali aturannya,” pungkas Horner. (dim)