Nostalgia Andy Poedjakesuma di Lapangan Basket Kompleks Otorita Batam

KENANGAN: Andy Poedjakesuma berdiri di lapangan basket kompleks otorita Batam yang pernah ramai pada era 1990-an. (Foto: Arif / Jawa Pos)
KENANGAN: Andy Poedjakesuma berdiri di lapangan basket kompleks otorita Batam yang pernah ramai pada era 1990-an. (Foto: Arif / Jawa Pos)
KENANGAN: Andy Poedjakesuma berdiri di lapangan basket kompleks otorita Batam yang pernah ramai pada era 1990-an. (Foto: Arif / Jawa Pos)

POJOKSATU- Pada era 1990-an, lapangan itu menjadi satu-satunya jujukan warga untuk bermain basket. Bukan hanya warga Batam, ada pula yang datang dari Johor maupun Singapura untuk bermain basket di lapangan tersebut. Namun, kini kondisi lapangan itu sudah tidak terawat. Banyak lapangan basket baru yang berkualitas sehingga lapangan tersebut terlupakan.

Akses menuju lapangan itu terbilang mudah. Selain terletak di kawasan yang terkenal di Batam, lapangan tersebut terbilang berada di tengah-tengah perumahan. Karena struktur jalanan yang tidak rata, fondasi lapangan itu lebih tinggi daripada rumah di kawasan tersebut.

Rumah Andy ”Batam” terletak tidak jauh dari lapangan itu, yakni hanya berjarak 10 meter. Tidak heran, Andy hafal benar setiap sisi lapangan tersebut.

”Dulu lapangan ini ramai. Hampir setiap malam ada yang bermain di sini. Fasilitasnya pun terbilang lengkap. Ada lampu di pinggir lapangan,” jelas Andy ”Batam” seraya menunjukkan letak lampu penerangan lapangan kepada Jawa Pos.


Sayangnya, masa kejayaan telah berlalu. Kini kondisi lapangan itu jauh dari kata layak. Hanya tiang penyangga ring yang menandakan bahwa lapangan tersebut dulu adalah lapangan basket yang terkenal di kalangan masyarakat. Bahkan, ketika Jawa Pos berbincang dengan Andy ”Batam” di lapangan itu, ada tiga mobil yang terparkir di sana.

”Kira-kira lima tahunan kondisinya sudah seperti ini. Mungkin gara-gara di sini sudah jarang ada anak kecil. Jadi nggak terurus begini. Dulu waktu ada lapangan yang lebih bagus, saya juga pindah ke lapangan lain,” katanya, lantas tertawa.

Saat berusia 10 tahun, Andy ”Batam” sering menghabiskan waktunya di lapangan Kompleks Otorita tersebut. Tidak jarang, dia keluar rumah sembari mengendap-endap. Melalui pintu belakang, Andy ”Batam” mengambil jalan memutar menuju lapangan. ”Biar nggak ketahuan Ibu. Saya sembunyi dulu di bawah ring untuk menunggu yang tua-tua selesai, baru saya ikut main. Kalau tahu malam-malam saya berada di lapangan, ibu bakal teriak-teriak, Andy belajar!” tuturnya, lalu nyengir.

Berasal dari keluarga yang memiliki passion di bidang olahraga, ayah Andy ”Batam”, Soemihady Syaf, adalah mantan pesepak bola profesional pada era 1980-an. Ibunya, Yourna Nur Aini, merupakan atlet badminton tingkat mahasiswa. Sejak kecil, Andy ”Batam” memang bercita-cita menjadi atlet.

”Saya nggak berlatih sendiri. Sepulang kerja, Ayah pasti bantu saya latihan di lapangan ini. Saya melakukan tembakan, ayah yang nge-rebound. Bahkan, nggak jarang saya dikritik tentang cara saya menembak olehnya,” terang pemain yang berposisi small forward tersebut.

Menurut adik Andy ”Batam”, Yudhistira Adi Nugraha, kakaknya memang sangat gigih berlatih basket sejak kecil. ”Apalagi, sejak SMP, Bang Andy melejit di basket dengan ditarik ke Riau untuk bermain di PON. Kemudian, saat SMA, dia pindah ke Jakarta untuk wujudkan mimpi menjadi atlet,” paparnya.

Meski sudah menjadi pemain basket kawakan, Andy ”Batam” dinilai tidak pernah kehilangan passion-nya. ”Begitu sembuh dari cedera tahun lalu, Bang Andy nge-gym setiap hari, mulai pukul 6 hingga 11 siang,” ungkap Yudhis, sapaannya. (ham)