Belajar Banyak ke MVP Musim Lalu

BAKAT HEBAT: Center Pelita Jaya Adhi Pratama ketika bertanding dengan NSH GMC di DBL Arena Surabaya kemarin. (Foto: Farid Fandi / Jawa Pos)
BAKAT HEBAT: Center Pelita Jaya Adhi Pratama ketika bertanding dengan NSH GMC di DBL Arena Surabaya kemarin. (Foto: Farid Fandi / Jawa Pos)

POJOKSATU- Belum genap setengah tahun Adhi bergabung dengan Pelita Jaya. Tetapi, penampilan dia begitu dahsyat. Center bertinggi 197 cm tersebut tidak tampak seperti pemain baru di Pelita Jaya. Dia sudah bisa berbaur dan beradaptasi dengan sangat baik.

Kehadiran Adhi membuat barisan big man Pelita Jaya yang musim lalu banyak bergantung kepada Ponsianus ”Komink” Nyoman Indrawan semakin kukuh. Saat ini Adhi menjadi pemain paling produktif serta pengumpul rebound terbanyak Pelita Jaya dengan rata-rata 12,8 poinper game dan 8,2 rebound per game.

Sudah enam double-double dikoleksi Adhi dari 14 game. Termasuk 18 poin dan 11 rebound saat mengandaskan NSH HMC GSBC Jakarta 88-59 kemarin (25/1).

Pemain berusia 22 tahun itu punya kemampuan beradaptasi yang cepat. Faktanya, dia tergolong telat mengenal basket. Adhi tidak menekuni basket dari usia dini layaknya pemain basket yang lain. Justru atletik, tepatnya nomor lompat jauh serta lari 100 meter, adalah olahraga pertama yang digeluti mahasiswa STIE Bhakti Pembangunan tersebut. Bakat besarnya tercium salah seorang ofisial Hangtuah Sumsel IM yang kemudian mengajak dia banting setir untuk terjun di dunia basket.


Dengan tinggi menjulang 197 cm, postur Adhi memang sangat ideal untuk bermain basket. Tidak membutuhkan waktu banyak bagi dia untuk menapaki jalan menuju basket profesional. Hanya satu tahun di tim junior, dia langsung promosi ke tim senior Hangtuah.

Selain karena bakat, menurut Adhi, dirinya berkembang pesat karena kepercayaan yang diberikan para pelatihnya. ”Dari dulu ganti-ganti pelatih, mulai Coach Nath (Nathaniel Canson, Red), Coach Wan Amran, dan sekarang Coach Inal (A.F. Rinaldo). Semua memberikan kepercayaan penuh kepada saya,” ujar Adhi. ”Itu yang membuat saya memberikan semua di lapangan. Kalau malah takut-takut memberikan kepercayaan, malah jatuhnya saya nggak percaya diri,” tambahnya.

Di sisi lain, Adhi mengatakan bahwa suasana kebersamaan serta atmosfer kekeluargaan erat di Pelita Jaya yang tidak berbeda dengan Hangtuah membuat dirinya semakin cepat menemukanchemistry di antara pemain.

”Semua senior juga welcome banget dan saya nyaman sekali di sini. Justru chemistry tidak hanya ditemukan di lapangan, tapi juga saat mengobrol santai dan bercanda itu,” ucapnya.

Di sisi lain, bertaburnya pemain bintang dan senior di Pelita Jaya, misalnya Andy ”Batam” Poedjakesuma, Kelly Purwanto, Komink, Ary Chandra, Faisal J. Achmad, dan Dimas Aryo Dewanto, membuat tugasnya semakin mudah.

Semua pemain senior memberikan banyak masukan kepada Adhi. Namun, lanjut dia, Komink sering menjadi teman diskusi sekaligus mentor setiap dirinya tampil. Itu juga tidak terlepas dari peran kedua pemain yang mengisi posisi big man di tim Pelita Jaya.

”Komink lebih ke mentor saya. Apalagi, dia MVP musim lalu juga kan. Jadi, ketika tampil buruk, saya selalu mengobrol ke dia dan minta saran,” terangnya. ”Saya menyadari masih perlu memperbaiki kemampuan shooting,” imbuhnya.

Dengan usia yang masih muda, potensi Adhi untuk menjadi center terbaik tanah air terbentang luas. Itu diamini Coach Inal. ”Seharusnya memang sudah dia (center masa depan Indonesia, Red). Makanya, Adhi dipanggil pelatnas,” ujar Coach Inal. ”Dia punya power yang kuat, agility bagus, pemain posisi lima yang memiliki speed serta post move baik. Tetapi, dia terkadang terlalu terburu-buru,” katanya. (ham)