Tuan Rumah Sulit Revans

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU- Revans. Itulah kata yang diungkapkan point guard CLS Dimaz Muharri Knights Surabaya menjelang big match kontra Satria Muda (SM) Britama Jakarta Seri III IndiHome NBL Indonesia 2014-2015 malam nanti di DBL Arena Surabaya.

Tentu masih hangat dalam ingatan para pemain dan fans CLS bagaimana mereka dikalahkan SM dengan margin 12 poin (52-64) pada big match pertama regular season ini di Jakarta (3/12). Mereka bertekad membalasnya.

Masalahnya, CLS sedang jeblok, setelah dua kali kalah pada seri III di Malang. Mereka ditundukkan M88 Aspac Jakarta dan Hangtuah Sumsel IM. Bandingkan dengan SM yang sedang on fire dan belum tersentuh kekalahan dalam sepuluh game musim ini.

Tekanan CLS juga semakin berat karena di Surabaya, justru mereka menghadapi seri neraka. Setelah melewati SM, masih ada tim kuda hitam Stadium Jakarta (22/1), Pelita Jaya Energi MP Jakarta, (24/1), dan Garuda Kukar Bandung (25/1).


Mengaca pada seri VI di Surabaya musim lalu, kemenangan perdana melawan SM akan memiliki pengaruh penting di sisa laga yang dijalani. Musim lalu pada seri VI di Surabaya, CLS kandas via overtime oleh SM dengan skor ketat 67-68.

Kekalahan itu bukan hanya membuat CLS gagal menjadi juara musim reguler, melainkan juga merembet pada kekalahan demi kekalahan di game berikutnya melawan tim besar lainnya, Aspac dan Pelita Jaya.

Karena itu, kemenangan atas SM bakal menaikkan kembali mental tanding Dimaz Muharri dkk sebelum menghadapi jadwal berat di laga berikutnya.

Melawan SM, mereka juga enggan mengulang kekalahan sehingga membuat head-to-head semakin tertinggal. Apabila ingin menjaga kans juara musim reguler, maka finalis Preseason Tournament Mangupura Cup 2014 tersebut harus menang kali ini.

“Start awal memang menentukan,” ujar Dimaz saat sesi konferensi pers di Agis Restaurant, kemarin (21/1). “Kami kalah karena kurang keras. Jika ingin menang maka kami harus lebih keras dari lawan. Mulai dari segi latihan, usaha, dan semua aspek. Yang pasti nggak ada tim yang mau kalah. Terlebih buat big match. Terlebih setelah kekalahan di Jakarta,” tambahnya.

Meski begitu, CLS punya catatan yang menarik. Pada 2011-2012, SM juga mencatat rekor winning streak sebanyak 10 game. Rekor itu terhenti karena kalah oleh CLS 65-59 pada seri II di Solo, 15 Januari 2012 silam. Itulah yang diwaspadai pelatih SM Cokorda Raka Satrya Wibawa.

Apalagi, selama ini ketika bermain di Surabaya timnya selalu kesulitan. Dari tiga kemenangan dari empat laga di Surabaya, margin poin SM tak pernah lebih dari 3 poin. “Mereka bermain di rumah sendiri pasti lebih ekstra. Winning streak memang berpengaruh baik di mental anak-anak, tapi CLS juga pasti telah berbenah,” ujar coach Wiwin, sapaan Cokorda Raka Satrya Wibawa.

Kedua tim memang punya gaya bermain yang berbeda di mana CLS cenderung bermain cepat dan mengandalkan barisan shooter-nya untuk mendulang angka. Sedangkan, SM juga bermain cepat, tetapi tetap mengandalkan barisan big man kawakan seperti Christian Ronaldo “Dodo” Sitepu dan Rony Gunawan.

Soal big man, jelas SM lebih unggul. Itu kalau dibandingkan dengan CLS yang mengandalkan Dwi Haryoko dan Herman. (mid/rif/ham)