Bersabar Dulu Satu Musim

Transisi Seru MotoGP di Musim 2015
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU- Dengan alasan apapun, inti dari keseruan balapan MotoGP adalah duel-duel sengit para rider ketika saling menyalip di atas sirkuit. Tak terlalu penting berapa kecepatan tunggangan mereka. Top speed, dan lap record hanya menjadi sekedar statistik yang terjadi kemudian adalah dominasi satu pembalap dalam satu musim balapan.

Nah, fakta itu pula yang mengancam keseruan musim balap 2015. Dalam dua musim terakhir, kecepatan motor MotoGP tercatat terus melonjak. Di saat yang sama dominasi Marc Marquez dan RC231V-nya nyaris tak terbendung. Dampaknya, pertarungan side-by-side dengan para rival yang menjadi magent tontonan bagi para fans tereduksi.

Marquez memenangi 13 dari 18 seri balapan kelas premium sepanjang musim 2014. Sepuluh seri pembuka ditaklukannya tanpa putus. Dalam catatan lap tercepat, Si Baby Alien-julukan Marquez- membubukan delapan kali namanya di sepanjang musim lalu.

Memang bukan salah Marquez jika dominasi itu tercipta. Skill mumpuni didukung motor tangguh super cepat menjadi kombinasi klop yang pasti diimpikan semua rider. “Aku hanya berusaha memenangi setiap seri. Kalau itu berujung pada dicatatnya rekor baru ya, saya senang-senang saja,” kata rider Catalan 21 tahun tersebut.


MotoGP adalah kelas para raja dimana ketangguhan para rider-nya sudah menjadi jaminan mutu. Sebut saja Stefan Bradl, Andrea Iannone, atau Pol Espargaro yang di kelas 125 cc dan Moto 2 sudah berkali-kali mengalahkan Marquez. Tapi dengan motor berbeda, performa mereka juga jauh di bawah juara dunia dua musim terakhir itu.

Bersama FIM, Dorna sebagai promotor MotoGP harus memutar otak untuk menemukan strategi agar balapan tetap seru dan tak ditinggal pemirsa. Mereka harus menemukan formula agar gap antara rider atau bahkan dengan kelas di bawahnya (Open) tidak terlalu mencolok.

Salah satu yang pernah dijajal dan gagal adalah ketika kapasitas mesin dipangkas menjadi 800 cc pada musim 2007.  Misi awalnya adalah mereduksi kecepatan dan meningkatkan sisi keamanan bagi para kontestan. Selain itu juga agar balapan bertambah seru.

Ide tersebut gagal. Karena ternyata dengan kapasitas mesin lebih kecil, kecepatan motor malah lebih kencang dibanding 990 cc, khususnya ketika melibas tikungan. “Pemangkasan kapasitas mesin menjadi 800 cc adalah kesalahan terbesar MotoGP dalam 15 tahun terakhir,” kata Juara Dunia sembilan kali Valentino Rossi.

Jika melihat rekor kecepatan yang tercipta sepanjang 2013-2014 tren bahwa motor semakin kencang sepertinya akan terus berlanjut musim ini. Dominasi Repsol Honda dan Marc Marquez bisa jadi belum bisa tertandingi.  Sepanjang musim 2014, Honda mencatat 14 lap tercepat, sementara Yamaha hanya tiga kali, dan Ducati sekali.

Fans MotoGP rupanya mesti bersabar lebih lama untuk menyaksikan pertarungan-pertarungan sengit yang mereka inginkan. Setidaknya sampai musim 2016 ketika ECU pada motor MotoGP sudah diseragamkan. Ditambah lagi, ban Michelin yang akan menggantikan Bridgestone setelah memutuskan mundur pada akhir musim 2015.

Ban membawa pengaruh terbesar dalam menciptakan lap record dibanding dengan komponen lain. Biaya besar sudah disiapkan para konstruktor untuk riset ketika pemasok ban MotoGP berganti. Karena dampaknya harus menyesuaikan pada chassis dan setingan motor. (cak)