Lebih Banyak Kuda Hitam Musim Depan

Ilustrasi

moto-gp-2014

POJOKSATU- MotoGP Musim 2014 adalah milik Honda dan Marc Marquez. Dari 18 seri yang berlangsung 13 kemenangan di antaranya diborong rider 21 tahun tersebut. Praktis hanya Valentino Rossi, Movistar Yamaha, yang bisa “sedikit” memberi perlawanan sengit kepada sang juara. Tapi tahun depan diprediksi bakal ada lebih banyak kuda hitam yang akan memberikan nimbrung pada pertarungan rider di depan.

Salah satu yang ditunggu-tunggu penggemar MotoGP musim depan adalah kembalinya Suzuki di grid. Pabrikan Jepang itu sudah absen dari kelas premium sejak akhir 2011 karena masalah finansial. Pemilihan Aleix Espargaro dan Maverick Vinales dirasa tepat untuk mengibarkan bendera Suzuki kembali balapan kuda besi termasyur di seluruh jagad.

Espargaro tampil moncer di kelas Open pada musim 2014. Banyak kalangan menyayangkan rider dengan talenta sehebat kakak Pol Espargaro itu tidak mendapat motor yang bagus. Sebelum menjuarai kelas Open musim ini, Aleix juga menjadi yang terbaik di kelas CRT (claiming rule team) dua tahun beruntun 2012-2013.


Nah, peluang tersebut langsung disabet Suzuki dengan mengontrakya dua musim ke depan. Dia bakal membalap bersama runner up Moto2 musim 2014, Maverick Vinales. Saat mejalani latihan dengan motor trail di Spanyol, 6 Desmeber lalu, kaki kirinya mengalami cedera ligamen dan harus absen pada sesi latihan musim dingin bulan depan.

“Aku menjalani fisioterapi setiap hari secara intensif dan dalam waktu sebulan kondisiku akan pulih,” kata eks rider Forward Yamaha tersebut. Dia baru bisa turun pada latihan resmi pra-musim di Sepang, Malaysia Februari mendatang.

Bintang moncer lainnya yang naik kelas dari kelas Open ke Factory musim 2015 adalah Andrea Iannone. Namanya sudah digadang-gadang menjadi suksesor Valentino Rossi di masa depan di tengah semakin langkanya rider Italia yang tutun di kelas premium.

Meski namanya belum bersinar terang, Iannone punya gaya membalap tangguh. Di kelas Moto2 musim 2012, dia pernah mengalahkan Marc Marquez dalam beberapa pertarungan. “Aku pernah mengalahkan Marc. Tapi itu dulu, saat masih di Moto2. Kini semuanya tinggal kenangan,” ujarnya.

Dia pun mengaku masih ingat bagaimana saat bertarung dengan juara dunia MotoGP dua musim terakhir. Karena itu pula, lanjutnya, pengalaman di Moto2 itu bakal menjadi modal penting saat memacu tunggangan barunya Desmosedici GP 15 tahun depan. “Aku juga masih ingat caranya mengalahkan Marc,” akunya.

Peluang lain bisa jadi akan diambil Jac Miller yang mengagetkan banyak pihak karena loncat dari Moto3 ke MotoGP, tanpa melewati kelas Moto2. Performanya langsung mencuri perhatian Vice President HRC Shuhei Nakamoto. Untuk membuktikan  feeling-nya bahwa rider Australia itu layaka turun ke kelas MotoGP, Nakamoto bahkan beberapa kali merayu pemilik LCR-Honda Lucio Cecchinello untuk bisa menerima sang rookie. Iming-imingnya adalah kemudahan mendapatkan mesin Honda untuk musim depan.

Lucio sendiri mengaku, Miller mengingatkan dirinya pada Casey Stoner. Apalagi dulu LCR adalah tim pertama yang menaungi pembalap juara dunia 2007 itu saat memulai debutnya di MotoGP padal 2006.

“Mungkin butuh enam bagi Jack untuk beradaptasi dengan motor MotoGP. Setelah itu semuanya akan jauh lebih baik. Dia mengingatkanku pada Stoner. Sebagai pembalap muda gaya membalapnya agresif, saya senang melihatnya,” tuturnya seperti dikutip situs resmi MotoGP.

Dengan semua pengembangan mesin dan rangka yang semakin membaik, gap performa motor di kelas Open dan Factory semakin tipis. Tentu kondisi tersebut akan membawa keseruan pada musim depan. (cak)