Harga CPO Terus Terjun Bebas

11091_9355_oke-CPO1-BEC

POJOKSATU- Kementerian Perdagangan menetapkan bea keluar (BK) ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada Januari 2015 sama dengan Desember 2014, yaitu nol persen. Kebijakan tersebut diambil dengan pertimbangan harga CPO internasional masih tetap rendah, bahkan turun lima persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

’’Penurunan harga referensi dan harga patokan ekspor (HPE) untuk produk CPO dan biji kakao disebabkan melemahnya harga internasional untuk komoditas itu,’’ ujar Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan.

Dia menuturkan, penetapan HPE Januari 2015 dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan instansi terkait dan menyikapi perkembangan harga komoditas. Baik nasional maupun internasional yang terjadi saat ini. ’’Harga anjlok karena oversupply minyak nabati dunia. Terutama minyak nabati yang bersumber selain dari CPO sebagai kompetitor utama,’’ tambahnya.


Harga CPO saat ini masih berada di bawah tingkat ambang batas pengenaan bea keluar, yakni di level USD 750. Itulah yang menjadi alasan komoditas ekspor tersebut tetap dikenai bea keluar nol persen. ’’Harga referensi dan HPE CPO saat ini rendah karena lemahnya harga CPO internasional yang disebabkan oversupply,’’ katanya.

Penetapan HPE didasarkan pada harga referensi CPO yang saat ini berada di kisaran USD 696,6 per metrik ton (MT) yang turun USD 36,56 atau 4,99 persen dari bulan sebelumnya, yaitu USD 733,16 per MT. Dengan angka itu, HPE CPO mencapai USD 625 per MT. ’’Produk pertanian dan kehutanan yang dikenai bea keluar (BK) saat ini, antara lain, CPO, biji kakao, kayu, dan kulit,’’ papar dia.

Harga referensi biji kakao untuk penetapan HPE telah turun USD 44,18 atau 1,51 persen. Awalnya, harganya menembus USD 2.929,75 per MT menjadi USD 2.885,57 per MT. Akibatnya, HPE biji kakao juga turun pada Januari, USD 43 per MT. ’’BK biji kakao tidak berubah kalau dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya, yakni tetap 10 persen,’’ jelasnya. (jp)