Isu Apel Berbakteri Membuat Anjlok Omset Pedagang Buah

Apel jenis Granny Smith. Foto: Int
Ilustrasi
Ilustrasi

MEREBAKNYA kabar dua jenis apel impor asal Amerika yang mengandung bakteri Listeria Monocytogenes beredar di pasaran, ditambah adanya pembatasan buah impor masuk ke Indonesia, membuat para pedagang buah impor di Bekasi kian terjepit.

’’Merebaknya apel impor yang mengandung bakteri di pasaran pasti akan membuat masyarakat tidak akan mau membeli buah apel impor,” keluh Pedagang Buah Impor di Pasar Induk Cibitung, Tumirin kepada Radar Bekasi, kemarin.

Ia mengungkapkan, keinginan masyarakat untuk membeli buah impor semakin menurun, presentasenya bisa antara 50 sampai 70 persen. ’’Para pengecer buah mulai kebingungan, mereka banyak yang mengeluh, karena sudah stoknya jarang, pengunjung pun banyak yang beralih ke buah lokal,” paparnya.

Ia berharap pemerintah kembali membuka keran masuknya buah impor ke Indonesia. Dengan banyaknya buah impor ke Indonesia, menurutnya akan menjadi daya saing bagi buah lokal. Masyarakat juga, kata dia, akan lebih banyak pilihan untuk mendapatkan buah yang lebih berkualitas.


’’Nah nantikan seleksi alam seperti sekarang ini, buah yang tidak berkualitas justru tidak diterima di pasaran, dan masyarakat bisa memilah dan memilih mana yang berkualitas, meskipun sebelumnya harus ada uji coba terlebih dahulu sebelum masuk ke Indonesia,” terangnya.

Pemerintah juga, lanjut dia, tidak seharusnya mengkhususkan pembongkaran buah impor di Kota Surabaya saja. Untuk pembongkaran buah Impor yang beredar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), pemerintah juga bisa membongkarnya di Pelabuhan Tanjung Priuk, agar biaya pengiriman tidak terlalu membengkak.

’’Selama ini pusatnya di Surabaya, coba bayangkan bila satu kontainer saja bisa menghabiskan antara 18 hingga 20 juta untuk transportasi pengiriman, artinya bila di Pelabuhan Tanjung Priuk bongkarnya kan bisa lebih ditekan lagi pengeluarannya,” tandasnya. (dho/rb/fsk)