BBM Diusulkan Paling Mahal Rp 9.500

foto: ilustrasi

194_149_30142014BBM-bec

POJOKSATU – Pemerintah menggodok mekanisme batas atas harga premium setelah dicabutnya pemberian subsidi pada bahan bakar minyak (BBM) jenis tersebut per 1 Januari 2015. Penetapan harga maksimal penting diberlakukan agar bahan bakar RON 88 itu tidak terlampau mahal saat harga minyak dunia kembali mendaki.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Naryanto Wagimin mengatakan, opsi batas atas yang diusulkan adalah Rp 9.500 per liter. Dengan demikian, saat harga minyak dunia naik dan harga keekonomiannya menyentuh Rp 9.500 per liter, pemerintah harus memberikan subsidi.

”Kalau harga minyak dunia rendah, itu enggak masalah. Tapi, kalau naik, harganya akan tinggi. Pak Menko (Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Red) ingin harga premium maksimal Rp 9.500 per liter,” ujarnya.


Untuk sarana transportasi, saat ini subsidi diberikan hanya untuk solar dengan besaran Rp 1.000 per liter. Kebijakan yang sama bisa diberikan untuk premium. ”Kalau sampai lebih dari Rp 9.500, pemerintah harus beri subsidi,” ucapnya.

Pemerintah, lanjut Naryanto, saat ini mengkaji besaran yang pas untuk batas atas. Termasuk memantau perkembangan naik dan turunnya harga minyak yang kini menjadi BBM dalam negeri. Semangat pemerintah, tidak ingin daya beli masyarakat jadi tertekan saat harga naik.

Bagi pemerintah, pengamatan itu juga menjadi bagian untuk mempertimbangkan turunnya harga BBM Februari nanti. Namun, berapa besaran penurunan tersebut masih belum bisa disampaikan saat ini. ”Nilainya masih dihitung,” jelas Naryanto.

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, tidak ada masalah dengan konsep pemberian subsidi di batas atas. Pertamina siap menjalankan mekanisme tersebut saat harga minyak dunia rebound tinggi. Yang penting, pemberian subsidi itu tidak menyalahi aturan yang berlaku.

Namun, Bambang memprediksi harga Rp 9.500 masih lama terjadi. Untuk tahun ini, dia memperkirakan pergerakan harga minyak mentah dunia tidak lebih dari USD 70 per barel. ”Efeknya ke naiknya harga BBM tidak banyak, hanya Rp 1.000 per liter,” jelasnya.

Simulasinya, setiap perubahan harga minyak senilai USD 1 per barel berdampak pada perubahan harga BBM di SPBU Rp 50–75 per liter. Menurut Bambang, hitungan itu tidak bisa terlalu dipegang karena ada kurs yang ikut memberi pengaruh. ”Misal, dolarnya masih Rp 12.500, kenaikan atau penurunan harga BBM Rp 50 per liter. Kalau dolarnya Rp 13 ribu, turun atau naiknya Rp 75 per liter,” terangnya. (ps)