Harga Gas 3 Kg Diusulkan Naik

Gas-3-Kilogram_Dalil-Haraha

POJOKSATU- Dampak naiknya harga elpiji tabung 12 kilogram (kg) mulai terasa. Karena harga berselisih semakin lebar, pengguna tabung berwarna biru tersebut memilih menggunakan elpiji bersubsidi 3 kg. Akibatnya, stok elpiji yang umum disebut tabung melon itu di beberapa tempat mulai menipis, bahkan habis.

Agar tren migrasi tersebut mereda, PT Pertamina (Persero) meminta pemerintah mempertimbangkan menaikkan harga gas elpiji 3 kg.

”Enggak usah tinggi-tinggi. Paling Rp 1.000 per kilogram sudah bagus. Itu sudah bisa mengurangi perpindahan ke elpiji 3 kilogram,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang di Jakarta.

Seperti diberitakan, Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg sebesar Rp 1.500 per kg pada 2 Januari 2015. Saat ini harga elpiji 12 kg dipatok Rp 134.700 per tabung dari sebelumnya Rp 114.900 (untuk wilyah Jakarta dan sekitarnya). Harga baru tersebut semakin memperlebar jarak (disparitas) harga dengan elpiji 3 kg yang saat ini dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 18.000 per tabung.

Desakan Pertamina itu didukung Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi). Direktur Puskepi Sofyano Zakaria mengatakan, harga elpiji subsidi 3 kg yang jauh dari harga keekonomian harus menjadi pertimbangan pemerintah untuk disesuaikan. ”Subsidi untuk orang tidak mampu memang harus jadi prioritas, tapi bukan berarti pemerintah harus menyubsidi dalam jumlah besar,” tuturnya di Jakarta (6/1).

Menurut Sofyano, harga elpiji 3 kg sejak 2007 tidak pernah naik atau disesuaikan pemerintah. Artinya, selama tujuh tahun pemerintah menanggung beban yang sangat besar terhadap produk elpiji 3 kg. ”Bandingkan dengan kenaikan tarif listrik yang sudah naik berkali-kali, tapi masyarakat yang kurang mampu tidak mengeluh. Sehingga saya rasa tidak masalah,” jelas dia.

Sofyano membeberkan, apabila pemerintah menaikkan harga jual elpiji 3 kg Rp 1.000 per kg, kebijakan tersebut sudah membantu pemerintah mengurangi subsidi sebesar 5 juta metric ton (mt) dikalikan Rp 1.000 per kg. Maka, hasilnya fantastis, akan mencapai Rp 5 triliun per tahun. (ps)

Feeds