Jangan Harap Jokowi Bisa Turunkan Harga Sembako

Lombok2-BEC

Pergantian malam tahun baru kemarin Presiden Jokowi telah menurunkan harga BBM jenis premium Rp 7.600, setelah menaikkannya Rp 8.500 dari Rp 6.500 pada November 2014 lalu.

Namun, penurunan harga BBM tersebut tidak diikuti penurunan harga bahan pokok dan transportasi yang sudah terlanjur naik.

Anggota Komisi VII DPR RI Aryo Djojohadikusumo mengatakan, pemerintah perlu mendorong penurunan harga bahan pokok lain tersebut.


“Saya rasa pemerintah perlu melakukannya,” sebut politisi Gerindra ini, Senin (5/1/2015).

Tetapi kalau melihat kinerja pemerintah yang sudah berjalan lebih dua bulan ini, Aryo kurang yakin hal itu bisa dilakukan. Mengingat, Jokowi kurang serius mengurus rakyat, khususnya memperhatikan mayarakat menengah ke bawah.

“Saya kurang yakin pemerintah saat ini punya kemampuan menurunkan harga bahan pokok lain,” tandasnya.

Di pasar tradisional harga sembako tidak bergerak turun alias tetap.

“Wah sudah terlanjut naik, ya tidak bisa diturunin lagi. Kalau stoknya sudah habis dan kami beli harganya turun, kami pasti akan turunin juga harganya,” ungkap Soegito, pedagang sembako di Pasar Anyar, Bogor, Senin (5/1/2014).

Harga telur masih tetap di harga Rp 18 ribu per kilo, tepung terigu Rp 9.900, gula pasir lokal Rp 10.900 per kilo, beras di kisaran Rp 7.800 sampai Rp 12 ribu per kilo tergantung kualitasnya.

Sementara masyarakat menyambut biasa turunnya harga BBM karena harga barang sudah terlanjur naik. “Sudah naik duluan harga sembako mana bisa turun lagi. Kan tahu sendiri tipe pedagang, naikin cepat tapi giliran turun susah sekali,” kata sejumlah masyarakat yang tengah berbelanja di pasar.

(rmol)