Sistem Pencatatan Akuntansi by Jurnal.id: Metode dan Siklusnya

Software akuntansi online by Mekari.
Software akuntansi online by Mekari.

POJOKSATU.id – Sistem pencatatan akuntansi dapat dilakukan dalam beberapa metode untuk mencatat seluruh transaksi keuangan dalam sebuah perusahaan. Metode akuntansi sendiri merupakan aturan dasar dan pedoman dalam sebuah bisnis untuk mencatat serta menyimpan catatan keuangannya.


Catatan dari sistem pencatatan akuntansi ini nantinya akan digunakan untuk pembuatan laporan keuangan dengan akurat dan detail.

Metode yang umumnya digunakan dalam sistem pencatatan akuntansi adalah berbasis kas dan akrual dimana penjelasan lengkapnya bisa kita simak di bawah ini.


Metode Umum Sistem Pencatatan Akuntansi

Kedua metode dalam sistem pencatatan akuntansi ini digunakan karena berhubungan dengan prinsip-prinsip dasar akuntansi.

Beberapa prinsip tersebut antara lain adalah prinsip periode akuntansi, entitas ekonomi. Untuk lebih jelasnya berikut penjelasan tentang kedua metode tersebut:

1. Metode Kas atau Cash Basis

Catatan akuntansi dengan metode ini dibuat berdasarkan kas pendapatan serta pengeluaran yang sesuai dengan kas real-time. Pencatatan penghasilan dan beban dilakukan saat dana benar-benar diterima atau dikeluarkan.

Pencatatan dengan metode ini memungkinkan untuk menunda pendapatan kena pajak, sebab metode ini akan menunda penagihan agar pembayaran tidak diterima pada tahun berjalan.

Selain itu juga memungkinkan untuk mempercepat pengeluaran karena akan dibayarkan segera setelah tagihan diterima, bukan menunggu hingga tanggal jatuh tempo. Ada beberapa keuntungan yang didapatkan dengan metode ini yaitu :

Baca Juga : Aplikasi Faktur Penjualan Terbaik by Jurnal.id: Pengertian, Tujuan, dan Jenis

● Usaha dalam pencatatan lebih sedikit dan mudah dipahami untuk dilaporkan, karenanya metode ini tidak membutuhkan banyak staff akuntansi bahkan dapat ditangani sendiri.

● Menjadi gambaran real dari arus kas masuk dan keluar untuk membantu dalam memahami profitabilitas terkini dalam masalah keuangan.

● Hanya memungkinkan untuk pencatatan penerimaan aktual yang akan dikenakan pajak sehingga bukan total penghasilan atau pendapatan. Sehingga akan membantu dalam perencanaan pajak serta menghindari beban pajak yang besar dalam periode arus masuk neto lebih rendah.

● Lebih sesuai untuk usaha atau bisnis kecil dengan sedikit aset atau tanpa inventaris, pebisnis pemula atau baru merintis hingga bisnis individu yang lebih suka metode kas sederhana.

2. Akrual Basis

Metode pencatatan ini mengakui pendapatan dan pengeluaran hanya ketika diperoleh atau dikeluarkan tanpa melihat kapan kas tersebut berpindah tangan.

Pencatatan dengan sistem dilakukan saat pendapatan diterima dibandingkan saat pembayaran diterima dan beban akan dicatat ketika terjadi bukan saat pembayaran dilakukan. Keuntungan dari metode ini sendiri adalah sebagai berikut :

● Memberikan gambaran tentang kondisi keuangan perusahaan yang lebih jelas dan akurat dalam periode akuntansi tertentu.

● Laporan keuangan yang dibuat menggunakan metode ini lebih berguna dalam pengukuran kinerja perusahaan.

● Bisa memberikan dasar yang lebih kuat dalam memprediksi pendapatan dan pengeluaran di masa mendatang serta pengambilan keputusan terkait.

● Lebih mudah dalam menetapkan kriteria tertentu untuk perusahaan yang diwajibkan untuk melakukan perhitungan pajak.

Mungkin Anda masih sedikit bingung dengan penjelasan di atas, untuk itu mari kita lihat penerapan kedua metode di atas langsung dengan contohnya:

1. Metode berbasis akrual

Fashion Inc selaku produsen pakaian mengelola pembukuannya berdasarkan metode akrual. Sehingga pada penjualan pakaian yang bernilai Rp10 juta maka Fashion Inc. akan melakukan pencatatan pendapatan penjualannya Rp10 juta. Pencatatan ini tidak memandang apakah pembayaran dilakukan secara tunai atau kredit.

Dengan mengikuti prinsip penyesuaian akuntansi maka setiap biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut maka pencatatan juga dilakukan pada periode yang sama. Misalkan 30% komisi penjualan harus dibayarkan kepada agen yang menjualkan pakaiannya.

Maka dalam contoh ini Fashion Inc. akan melakukan pencatatan pendapatan sebesar Rp10 juta beserta biaya komisi sebesar Rp3 juta (30% x Rp 10 juta) bersama-sama pada periode penjualan tersebut.

Baca Juga : Fitur Terlengkap Online Timesheet Software Terbaik Talenta by Mekari

2. Metode berbasis kas

Contoh kedua adalah perusahaan Shirt Inc. yang melakukan pencatatan berdasarkan metode kas. Katakanlah mereka mendapatkan hasil penjualan yang sama, namun Shirt Inc akan melakukan pencatatan penjualan senilai Rp 10 juta setelah pembayaran mereka terima.

Dalam hal yang berhubungan dengan kebijakan penjualan kredit sebesar 60% (pembayaran kas 40%). Disini Shirt Inc. hanya akan mengakui pendapatannya sebesar Rp4 juta yang dihitung dari pembayaran 40% yang mereka terima dari penjualan senilai Rp10 juta.

Nantinya komisi maupun berbagai pengeluaran lainnya yang berhubungan dengan penjualan baru akan dicatat bila telah melakukan pembayaran.

Perbedaan Sistem Pencatatan Akuntansi Metode Akrual dan Kas

● Pada metode akrual akan mengakui pendapatan serta beban total selama satu periode yaitu saat diterima atau terjadi saja.

● Pada metode kas pencatatan transaksi yang berhubungan dengan 1 penjualan atau pengeluaran tersebar pada beberapa periode dan didasarkan pada waktu pembayaran. Hal ini mengarah pada akun yang kurang akurat dalam menggambarkan kinerja keuangan pada periode tertentu.

Misalkan pada periode yang menunjukkan pendapatan perusahaan lebih tinggi bukan berarti kinerja penjualannya meningkat.

Hal ini juga bisa berarti bahwa akan lebih banyak kas yang dikumpulkan dari pelanggan terhadap penjualan pada periode apa saja.

Tahapan Umum dalam Siklus Akuntansi

Proses dalam sistem pencatatan akuntansi merupakan sebuah siklus yang terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilakukan secara berurutan.

Siklus ini nantinya akan memberikan informasi akuntansi yang akurat guna membantu dalam proses pengambilan keputusan. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa tahapan dalam sistem pencatatan akuntansi :

1. Identifikasi Transaksi

Tahap pertama dalam siklus akuntansi adalah mengidentifikasi setiap transaksi secara tepat oleh akuntan yang dimulai dengan mencatat setiap transaksi yang terjadi.

Transaksi yang akan dicatat merupakan transaksi yang berpengaruh secara langsung pada kondisi keuangan perusahaan dan dinilai secara objektif serta harus disertai bukti transaksi guna kemudahan tahap ini.

Bukti yang dibutuhkan dapat berupa kwitansi, nota, faktur maupun bukti sah lainnya.

2. Analisis Transaksi

Setelah diidentifikasi, transaksi tersebut kemudian akan dianalisa pengaruhnya pada kondisi keuangan perusahaan dimana sistem pencatatan selalu dilakukan menggunakan double-entry system.

Maksudnya adalah setiap transaksi harus mempunyai pengaruh pada posisi keuangan baik di debit maupun kredit dengan jumlah yang sama. Secara umum, hal ini memakai persamaan :

Aktiva = Kewajiban + Ekuitas

Persamaan tersebut digunakan dalam menganalisis dan memperhitungkan transaksi yang terjadi. Sebagai gambaran, perusahaan memperoleh investasi uang tunai sebesar Rp1 juta, peralatan dan perlengkapan senilai Rp500 ribu.

Dari transaksi tersebut bisa disimpulkan bahwa terdapat penambahan kas, perlengkapan serta peralatan sebesar Rp1,5 juta yang berarti menambah modal perusahaan senilai tersebut. Sebab semua transaksi tersebut memang menjadi bagian dari modal perusahaan.

Baca Juga : Mengapa Invoice Penting dan Bagaimana Cara Membuatnya?

3. Pencatatan Transaksi dalam Jurnal

Tahap selanjutnya adalah mencatat seluruh transaksi ke dalam sebuah jurnal keuangan yang merupakan sebuah catatan kronologis dalam 1 periode tentang seluruh transaksi yang terjadi. Proses tersebut dalam dunia akuntansi disebut dengan penjurnalan.

Dalam proses ini semua transaksi akan dibagi dalam 2 bagian yaitu debit dan kredit yang dapat dilakukan dalam sebuah jurnal umum.

Pencatatan ini harus dilakukan secara teliti dan berurutan sehingga tidak ada transaksi yang dilewatkan. Sehingga pada akhir periode akan didapatkan jumlah debit dan kredit yang sama nilainya.

4. Posting Buku Besar

Setelah semua transaksi dicatat ke dalam jurnal maka akuntan selanjutnya akan memindahkan catatan tersebut ke dalam buku besar.

Buku besar sendiri merupakan kumpulan rekening pembukuan yang memuat informasi aktiva tententu yang dicatat selama 1 periode.

Sebuah perusahaan dengan pencatatan akuntansi yang baik umumnya akan mempunyai berbagai daftar rekening buku besar.

Rekening-rekening yang ada dalam buku besar tersebut akan diberi nomor-nomor yang mempunyai kode tertentu yang akan memudahkan saat proses identifikasi pada jurnal tersebut.

Di samping itu, akuntan juga akan dipermudah dalam melakukan pengecekan ulang maupun melihat referensi yang berkaitan dengan transaksi. Transaksi ini adalah yang sudah terjadi dan telah tercatat ke dalam buku besar.

Baca Juga : Mengenal Layanan e-filling untuk Wajib Pajak SPT

5. Penyusunan Jurnal Penyesuaian dan Neraca Saldo

Neraca saldo disini berisi daftar saldo dari setiap rekening pada buku besar selama periode tertentu. Untuk menulisnya, saldo yang ada dalam buku besar akan digabungkan dan harus dalam kondisi yang jumlahnya sama.

Namun, terkadang dalam kondisi tertentu kerap ditemui transaksi yang belum tercatat maupun adanya kesalahan yang ditemukan dalam neraca saldo. Bila terjadi hal ini maka akuntan harus mencatatnya ke dalam jurnal penyesuaian.

Jurnal penyesuaian ini penyusunannya bersifat periodik dimana prosesnya serupa dengan penjurnalan secara umum. Setelah hal ini tercatat dalam jurnal penyesuaian maka laporan keuangan nantinya akan menjadi aktual.

6. Penyusunan Neraca Saldo Penyesuaian dan Pembuatan Laporan Keuangan

Pembuatan neraca saldo penyesuaian adalah berdasarkan buku neraca saldo yang sebelumnya sudah dibuat dengan memperhatikan jurnal penyesuaian. Berbagai saldo tersebut terbagi ke dalam kelompok aktiva dan pasiva yang sesuai dengan statusnya.

Saldo-saldo ini kemudian akan disusun hingga jumlah kedua saldonya sama besar atau nilainya. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunannya adalah jumlah saldo pada aktiva maupun pasiva jumlahnya harus sama besar.

Apabila hal ini tidak terpenuhi maka akan ada kesalahan dalam perhitungannya serta tidak dapat dibuat menjadi laporan keuangan.

Setelah saldo aktiva dan pasiva jumlah saldonya sama barulah laporan keuangan akan dibuat pada neraca saldo dengan jumlah yang sama besar.

Di dalam laporan keuangan tersusun atas beberapa laporan seperti laba rugi, perubahan modal, arus kas dan neraca penghitung likuiditas, solvensi, dan fleksibilitas.

7. Pembuatan Jurnal Penutup

Pada tahap terakhir akuntan akan menyusun dan membuat jurnal penutup yang disusun pada akhir periode akuntansi. Penyusunan ini adalah dengan cara menutup rekening nominal maupun rekening laba rugi dengan cara membuat nilai nihil pada rekening tersebut.

Pembuatan rekening penutup ini bertujuan untuk melihat aliran pada sumber selama berjalannya periode akuntansi tersebut yang dapat digunakan untuk mengukur setiap kegiatan yang sudah dilakukan pada periode tersebut.

Selain itu, jurnal penutup juga dapat membantu untuk memulai kembali siklus akuntansi pada periode selanjutnya.

8. Tahap Opsional : Penyusunan Neraca Saldo dan Jurnal Pembalik

Tahap penyusunan neraca saldo dan jurnal pembalik merupakan tahap yang bersifat opsional, akuntan boleh melakukannya atau tidak. Di sini neraca saldo memuat saldo rekening permanen dari rekening buku besar setelah dibuatnya jurnal penutup.

Sedangkan, pembuatan jurnal pembalik adalah agar proses pencatatan beberapa transaksi tertentu khususnya yang berulang dapat disederhanakan.

Baca Juga : Sistem Payroll: Pengertian, Proses, Tujuan, dan Metodenya

Mudahkan Sistem Pencatatan Akuntansi dengan Software

Dulu semua proses atau tahapan dalam siklus akuntansi dilakukan secara manual, tentu dapat dibayangkan betapa rumitnya hal tersebut bukan.

Selain itu, akan dibutuhkan banyak orang untuk mengerjakan pekerjaan akuntansi ini, sebab semua perhitungan dan pelacakan harus dilakukan secara manual.

Namun seiring perkembangan zaman dan teknologinya, kini telah hadir sistem pencatatan akuntansi dalam bentuk software khusus akuntansi yang akan sangat membantu dalam proses akuntansi tersebut.

Salah satu software sistem pencatatan akuntansi terbaik sekaligus pionir awalnya di Indonesia adalah software akuntansi by Mekari Jurnal.

Software by Mekari ini dapat mempercepat proses pencatatan akuntansi secara otomatis dan akurat dengan meminimalisir bahkan menghindari kesalahan.

Selain itu, dengan sistem pencatatan akuntansi, pencatatan juga akan lebih sederhana serta mudah untuk dipahami siapa saja. Dengan data transaksi yang tersimpan rapi, proses rekapitulasi data juga dapat dilakukan dengan cepat dan efisien.

Tampilan software juga sangat sederhana dan user friendly untuk memudahkan pemakainya. Anda dapat melihat info lengkap mengenai software akuntansi tersebut melalui https://www.jurnal.id/id/sistem-pencatatan-akuntansi/. Dapatkan fitur free trial untuk semakin meyakinkan Anda dalam menggunakannya.

Mekari sendiri merupakan pengembang aplikasi serta software khusus bisnis yang telah berpengalaman dan terpercaya.

Anda tidak perlu meragukan keamanan data dalam software ini, sebab Jurnal by Mekari telah menggunakan sistem pengamanan berstandar ISO 27001 yang setara pengamanan data perbankan.

Dapatkan pula berbagai aplikasi atau software lainnya di https://www.jurnal.id/ yang merupakan website resminya.***