Kemenperin Dorong Industri Baja Nasional

industri baja
Ilustrasi industri baja/Foto via Jawa Pos

POJOKSATU.id, JAKARTA – Baja adalah salah satu komponen dalam setiap proyek infrastruktur. Karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun mendorong industri baja nasional.


Di era covid semua negara berupaya mencari cara agar permintaan di industri baja meningkat, contohnya Amerika Serikat (AS).

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier mengatakan, di sana pelaku industri menyurati parlemen agar mengeluarkan semacam infrastruktur bill yang tujuannya adalah untuk mendorong industri baja.


“Semua pada saat covid hampir seluruh industri (baja) ini mengalami slow down dan kemudian banyak dijumpai tenaga kerja yang mungkin dijaga, agar tidak kena PHK. Ini satu upaya yang besar, jadi distruption dari supply chain secara global,” katanya.

Lebih lanjut, Taufiek menyebut, negara-negara yang berkonsentrasi di industri baja, menggunakan skema stimulus untuk membangkitkan industri baja nasionalnya.

Diharapkan, dengan skema stimulus itu adanya pertumbuhan permintaan baja. Sikap serupa juga dilakukan Tiongkok. Negara tersebut mengeluarkan bounce sampai sekitar USD 326 miliar.

Jika dilihat dari peta dunia, 52 persen pengguna baja itu di sektor konstruksi dan bangunan. 16 persen di equipment/machining, 12 persen di sektor otomotif, 10 persen di house hold, dan 3 persen di sektor lainnya seperti alat elektronik.

“Ini adalah gambaran besar mengapa infrastruktur menjadi penting untuk didorong dana pemerintah,” ucapnya.

Instrument lain yang tak kalah penting dalam memperkuat industri baja nasional adalah SNI produk baja dan peningkatan TKDN. Taufik menilai secara teknik, SNI merupakan instrument yang cukup bagus untuk membendung, impor-impor produk yang dihilir.

Sementara itu, Vice President PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi mengatakan, strategi pelaku usaha dalam menjaga industri baja nasional dalam percepatan infrastruktur di masa pandemi seperti sepak bola. Yakni, bertahan dan menyerang.

Stephanus menjelaskan, strategi bertahan, yakni menjaga kesehatan dan keamanan kerja di lingkungan industri baja nasional, dan menjaga perekonomian dan memproteksi industri baja nasional dari baja impor.

Adapun strategi maju ke depan yakni mempercepat inovasi dalam industri baja, inovasi berbasis metal secara berkesinambungan, kemudian meningkatkan standard dan yang terakhir memperkuat UMKM dan IKM khususnya untuk baja konstruksi.

Dirinya menambahkan, baja merupakan Mother of Industry, dari sebuah negara. Karenannya ia berharap dukungan untuk dapat menjaga dan meningkatkan standarisasi di industri ini. Salah satunya dengan spercepatan kebijakan wajib SNI khususnya untuk profil baja ringan guna melindungi industri baja dalam negeri dari produk impor.

(jpc/pojoksatu)