Bantu UKM, Kemenristek Alokasikan Dana Rp 2,7 Miliar

Menristek Bambang Brodjonegoro

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) mengalokasikan dana Rp 2,7 miliar untuk pemberdayaan masyarakat melalui perguruan tinggi dengan fokus dukungan pada usaha kecil dan menengah (UKM).


Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menjelaskan, penerima hibah nantinya akan diseleksi berdasarkan proposal yang masuk. Kemudian, dilakukan seleksi secara administrasi dan substansi. Baru ditentukan pemenangnya.

Disebutkan, ada 29 judul proposal yang lolos dan berhak menerima dana pemberdayaan masyarakat Program UKM Indonesia Bangkit Tahun 2020.

Proposal tersebut berasal dari 27 perguruan tinggi, baik negeri dan swasta di Indonesia. Di antaranya, Politeknik Negeri Jember dan Universitas Widyagama yang mendapatkan dana untuk dua proposal.


Kemudian, Politeknik Negeri Sriwijaya, Politeknik Negeri Subang, Politeknik Negeri Tanah Laut, Universitas Diponegoro, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Lampung, Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Malang, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Udayana, Politeknik Negeri Ambon, Institut Teknologi Nasional Malang, dan lainnya.

Seluruhnya tersebar merata di Indonesia, dengan rincian terdiri dari Bali dengan 4 judul proposal, Lampung 2 judul proposal, Daerah Istimewa Yogyakarta 2 judul proposal, Jawa Barat 1 judul proposal, Jawa Tengah 5 judul proposal, Jawa Timur 8 judul proposal, Kalimantan Selatan 2 judul proposal, Maluku 1 judul proposal, Papua 1 judul proposal, Sulawesi Selatan 2 judul proposal, dan Sumatera Selatan 1 judul proposal.

“Terdapat 3.716 judul proposal yang mendaftar, 1068 yang lolos administrasi dan dilakukan seleksi substansi. Setelah itu ditentukan 29 judul proposal sebagai pemenang,” jelasnya.

Menteri Bambang berharap, implementasi proposal yang diajukan oleh perguruan tinggi harus bisa mencipatakan less contact economy untuk UKM di sekitar kampus.

Selain karena sangat dibutuhkan untuk berbelanja di masa pandemi ini, minim kontak jadi tren masyarakat yang berubah ke digitalisasi.

“Ini cara untuk mendukung ekonomi tetap produktif di masa pandemi ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang menuturkan, UKM harus bertahan untuk bisa tetap produktif. Bantuan modal telah diberikan pemerintah melalui program dukungan lainnya. Namun, tetap dibutuhkan sentuhan teknologi agar dapat menyentuh pasar.

Selain penjualan, lingkup implementasi yang bisa dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah UKM dan Koperasi, di antaranya pembinaan kelompok, pengembangan sentra, permodalan, manajerial, proses produksi, dan pemasaran.

(jpc/pojoksatu)