Pemulihan Ekonomi pada Semester II Dorong Penguatan Nilai Tukar Rupiah

ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pemulihan ekonomi yang menguat pada semester-II 2020 diprediksi dapat mendorong penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).


Hal ini diungkapkan Gubernur BI Perry Warjiyo. Dikatakan, meski mulai Juli 2020 melemah dipengaruhi ketidakpastian pasar keuangan global, nilai tukar Rupiah tetap terkendali dengan mekanisme pasar yang berjalan baik.

Dikatakan, untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, Bank Indonesia terus menjaga ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun pasar valas serta memastikan bekerjanya mekanisme pasar.

Lebih lanjut, Perry menyampaikan, Rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,36 persen secara point to point atau 2,92 persen secara rerata dibandingkan dengan level Juni 2020.


Hal ini dipicu kekhawatiran terhadap terjadinya gelombang kedua Covid-19, prospek pemulihan ekonomi global, dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat kenaikan tensi geopolitik AS–Tiongkok.

Perry melihat kekhawatiran yang sama masih berlanjut. Sehingga pada Agustus 2020, Rupiah kembali mendapat tekanan.

Adapun nilai tukar mata uang Garuda per 18 Agustus 2020 mengalami depresiasi 1,65 persen secara point to point atau 1,04 persen secara rerata dibandingkan dengan level Juli 2020.

“Dibandingkan dengan level akhir 2019, Rupiah terdepresiasi 6,48 persen (ytd),” tuturnya.

Pihaknya pun memperkirakan nilai tukar Rupiah masih berpotensi menguat karena secara fundamental levelnya bulan ini masih undervalued.

Peningkatan nilai tukar juga didukung inflasi yang rendah dan terkendali, defisit transaksi berjalan yang rendah, daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi, dan premi risiko Indonesia yang menurun.

(jpc/pojoksatu)