Ekonom : Ekonomi Mungkin Bisa Rebound Akhir 2020

ekspor impor
Ilustrasi. Foto: dok Jawa Pos

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sektor ekonomi dan dunia usaha di Indonesia terpukul akibat wabah Covid-19. Target pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya dipatok 4,7 persen, diperkirakan hanya bisa tumbuh di kisaran 1,5 hingga 2 persen tahun ini.


Tak jauh berbeda, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga mengalami pukulan yang sangat berat.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto menyebut banyak perkiraan dari para ahli kesehatan yang memprediksi Covid-19 mulai menurun pada Juni-Juli 2020.


Jika perkiraan tersebut benar, kata Ryan, ekonomi diprediksi mungkin sudah bisa rebound pada akhir 2020.

Mandeknya perekonomian dirasakan bukan hanya dari sisi pasokan, tetapi juga disebabkan oleh menurunkan permintaan akibat menurunnya daya beli masyarakat. Salah satunya penyebabnya adalah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat menurunnnya skala produksi akibat terdampak Covid-19.

Lebih lanjut, Ryan menuturkan, untuk UMKM, yang terbaik dalam kondisi saat ini adalah fokus pada kebutuhan konsumen dengan terus berinovasi baik di level produk maupun services sesuai dengan perubahan preferensi dan perilaku konsumen.

Pelaku UMKM harus terus menjaga hubungan dan tetap melakukan komunikasi dengan dengan vendor, supplier dan distributor dan terus mempererat dalam mengembangkan jejaring dan bisnis.

“Pelaku UMKM juga harus terus berkolaborasi dengan perbankan sebagai mitra strategis untuk sumber pembiayaan, informasi, dan pendampingan pengembangan usaha,” imbuhnya.

Ryan pun mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi akan sangat bergantung dari penanganan dan pencegahan meluasnya wabah Covid-19 dapat tertangani.

Disebutkan banyak kalangan memprediksi penyebaran Covid-19 akan mendatar dan berangsur turun pada akhir Mei. Namun, tidak sedikit juga yang mengkhawatirkan serangan wabah gelombang kedua juga patut di waspadai.

Intinya, katanya, dalam kondisi penerapan physical distansing dan banyaknya pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan melambatnya perekonomian. “Ini yang harus betul-betul diwaspadai karena bukan hanya daya beli yang menurun, dari sisi suplly juga akan mengalami perlambatan,” katanya.

Meski melambat, konsumsi rumah tangga tetap menjadi andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara sektor investasi dan ekspor masih sangat sulit untuk diharapkan.

“Untuk mendorong perekonomian, salah satu yang sangat diharapkan adalan belanja pemerintah. Dorongan pemerintah ini diharapkan bisa mendorong perekonomian yang saat ini tengah bermasalah akibat pandemi Covid-19,” tandasnya.

(jpc/pojoksatu)