Dampak Virus Corona, Bisnis Industri Penerbangan Alami Penurunan

Bandara Soekarno Hatta
Ilustrasi/Bandara Soekarno Hatta

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sektor industri penerbangan mengalami penurunan akibat dampak dari virus corona. Terhitung Januari-Februari, angka penurunan mencapai 3,2 persen.


Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Awaluddin. “Kalo MoM (Month on Month) negatif 3,2 persen, itu karena virus corona ini,” katanya.

Akan tetapi, katanya, jika secara tahun per tahun (year on year), aktivitas penerbangan malah tumbuh sebesar 5,6 persen. Angka itu didominasi penerbangan didominasi oleh wisatawan dalam negeri.

“Kalau YoY, 1 Januari sampai 10 Februari 2019, compare (bandingkan) 1 Januari sampai 10 Februari 2020 tumbuh 5,6 persen, kenapa tumbuh 5,6 persen karena domestik besar. Tumbuh dari agregat semua seluruh Indonesia,” paparnya.


Adapun penurunan terjadi karena sejumlah negara, termasuk Indonesia menerapkan kebijakan penghentian sementara serta pengetatan penerbangan untuk mengantisipasi masuknya virus tersebut dari Tiongkok.

Melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), pemerintah memutuskan menghentikan seluruh penerbangan dari dan menuju Tiongkok. Kebijakan ini berlaku pada Rabu (5/2) pukul 00.00 WIB.

Hal itu dilakukan menyusul status darurat yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) atas virus korona.

“Penundaan sementara ini ditujukan untuk melindungi masyarakat dari risiko tertular mengingat salah satu yang menjadi potensi masuknya penyebaran virus adalah akses transportasi udara yang erat kaitannya dengan keluar masuknya penumpang internasional,” tegas Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, belum lama ini.

Namun, untuk mengantisipasi itu, pemerintah pun juga telah menyiapkan beberapa opsi dengan memberikan insentif penerbangan. Sebab, saat ini para maskapai tengah mengalami kondisi yang tidak baik.

Ada dua opsi yang disebutkan, yakni operation incentive dan marketing incentive. Operation incentive merupakan insentif yang berdampak langsung ke operasi maskapai.

“Mereka kan harus bayar landing fee, bayar parking fee. Kita bisa kasih diskon, kita bisa bikin variable pricing, mungkin kalo landing malam bisa kita berikan free karena malam sepi,” terangnya.

Sedangkan untuk marketing insentif, Awaluddin mengatakan, bisa dengan membuka rute-rute baru atau menambah frekuensi penerbangan. Opsi ini bisa bersifat sementara dan harus ada kesepakatan bersama dengan pihak maskapai.

“Bisa bikin rute baru, kita juga bisa bikin karena sistem event. Itu bisa karena slot kosong kan, kan slot idle (kosong) karena Tiongkok sementara ditutup,” tandasnya.

(jpc/pojoksatu)