Dorong Masyarakat Gunakan Mobil Listrik, Ini Langkah Pemerintah

Airlangga Hartarto
Airlangga Hartarto

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pemerintah menargetkan mobil yang digunakan mayoritas masyarakat Indonesia adalah mobil listrik.


PAda 2018, jumlah total kendaraan listrik di pasar global adalah sekitar 2 juta unit.

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Dengan itu, Indonesia pun diharapkan dapat menjadi produsen dari kendaraan listrik tersebut.

“Di 2025, ditargetkan sebanyak 20 persen mobil yang beroperasi di Indonesia adalah mobil listrik. Maka itu, Indonesia akan fokus mengembangkan industri kendaraan listrik (electric vehicles),” katanya.


Pemerintah pun kini tengah berusaha untuk membuka pasar baru dan membentuk supply chain yang kuat untuk industri otomotif.

Dengan pasar domestik yang kuat dan investasi dari perusahaan-perusahaan otomotif ternama, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi negara produsen mobil terbesar di ASEAN.

“Saat ini, Indonesia merupakan eksportir otomotif kedua terbesar di ASEAN. Maka itu, kami sadar akan adanya tantangan tertentu di industri ini, karena produksi kendaraan masih sangat bergantung kepada impor bahan mentah, seperti logam, bahan kimia, juga komponen eletronik lainnya,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, rencana itu harus berfokus kepada perbaikan di sektor industri manufaktur, mendorong ekspor, menjaga impor, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Pasalnya, hal ini merupakan solusi penting untuk mengatasi jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap).

Selain itu, untuk mendorong target sebagai produsen mobil listrik, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No.55 Tahun 2019, tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicles) untuk Transportasi Jalan, serta Peraturan Pemerintah (PP) No. 73 Tahun 2019 tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Tujuan dari aturan-aturan itu adalah mendukung pengembangan industri otomotif berteknologi tinggi dan menyediakan solusi untuk mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar fosil.

“Setelahnya, defisit neraca perdagangan diharapkan akan berkurang, sehingga ke depannya akan bisa meningkatkan kualitas lingkungan kita sebagai hasil pengurangan emisi karbon,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah secara aktif juga mendukung pabrikan kendaraan dari luar negeri untuk memproduksi kendaraan listrik di negara ini.

“Kami mendorong perusahaan-perusahaan tersebut dan akan menyediakan kemudahan akses untuk mewujudkan cita-cita kami menjadi pusat produsen kendaraan listrik di ASEAN, Asia dan dunia,” tandasnya.

(jpc/pojoksatu)