Persaingan Usaha BPW Makin Sengit

Wisata Yogya
Ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Persaingan usaha biro perjalanan wisata (BPW) saat ini makin sengit seiring makin meningkatnya teknologi digital.


Hal ini diungkapkan Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jawa Timur Arifudinsyah.

Dikatakan, BPW konvensional tidak hanya bersaing dengan BPW daring, tetapi juga BPW ilegal.

“Sebenarnya kami oke-oke saja dengan masifnya biro perjalanan online asalkan persaingannya sehat,” ujar Arif.


Lebih lanjut, kata Arif, yang menjadi masalah adalah BPW daring yang statusnya tidak jelas atau ilegal. Mereka hanya bermodal promosi lewat media sosial atau internet untuk menggaet konsumen.

BPW daring ilegal menawarkan paket wisata dengan sangat murah karena tidak perlu membayar pajak.

“Akibatnya apa? Persaingan harga tidak sehat. Itu tentu merugikan kami sebagai perusahaan travel yang taat bayar pajak dan taat aturan,” ucapnya.

Dirinya pun berharap pemerintah membuat regulasi untuk memproteksi BPW konvensional dan BPW daring yang legal dari serangan BPW ilegal.

Menurut Arif, jika hal tersebut terus-menerus dibiarkan, BPW resmi akan makin tergerus.

Di sisi lain, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) justru diuntungkan BPW daring yang kian marak. Khususnya yang terhubung dengan aplikasi penyedia penginapan.

Ketua PHRI Jatim Herry Siswanto menyatakan bahwa okupansi hotel meningkat berkat aplikasi semacam itu.

“Aplikasi itu sudah menjadi bagian dari sales and marketing kami untuk bekerja sama dengan banyak pihak,” katanya.

Herry mengungkapkan, BPW daring biasanya bekerja sama dengan hotel berbintang.

(jpc/pojoksatu)