Soal Perda Larangan Kantong Plastik, Ini Kata Kemenperin

kantong plastik alfamart
Ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kemenperin meminta seluruh pemerintah daerah tidak menerbitkan perda yang melarang peredaran kantong dan kemasan plastik.


Pasalnya, perda tersebut akan tumpang tindih dengan aturan yang lebih tinggi dan mengganggu iklim usaha.

Direktur Kimia Hilir Kemenperin Taufiek Bawazir mengatakan, aturan pelarangan kantong dan kemasan plastik dapat mengganggu perekonomian nasional. Sebab, sektor plastik dan karet berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


“Saya sampai saat ini belum mendalami perda tersebut. Namun saya berharap, aturan tersebut tidak perlu diterbitkan karena akan tumpang tindih. Lebih baik jika aturan tersebut diarahkan untuk pengurangan sampah bukan untuk pelarangan kemasan plastik. Kami berharap aturan tersebut jangan dikeluarkan karena apapun bentuk pelarangan plastik akan mengganggu demand industri plastik nasional,” ujar Taufiek.

Lebih lanjut, selain akan mengganggu iklim investasi, Perda plastik juga dinilai menimbulkan gejolak di sektor industri tersebut.

Dirinya menilai adanya peraturan itu jika diukur berdasarkan sisi lingkungan, harusnya pemerintah daerah memberikan insentif bagi industri daur ulang guna meminimalisasi peredaran plastik di lingkungan.

“Jadi meski bentuknya itu cukai, Perda larangan, atau penerapan plastik berbayar sama sekali tidak efektif mengurangi sampah plastik,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan Kemenperin, produk domestik bruto (PDB) industri plastik dan karet menghasilkan Rp 92 triliun pada 2018, atau tumbuh 6,9 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Artinya, industri plastik juga memberi kontribusi terhadap ekonomi nasional.

Terkait persoalan ramah lingkungan, Taufiek mengatakan saat ini terdapat industri daur ulang nasional sebanyak 1.500 industri.

Untuk itu, pihaknya menyarankan kepada semua pihak untuk melihat spektrum isu lingkungan secara luas sebab plastik merupakan komoditas yang bermanfaat dan tidak berbahaya.

Dia menjabarkan, plastik dihasilkan dari petroleum base dan nafta yang memiliki kelebihan dapat didaur ulang untuk kemanfaatan ekonomi.

Setidaknya, kata Taufiek, hampir empat juta pemulung dapat memanfaatkan plastik yang beredar sebagai bahan daur ulang.

“Artinya, plastik yang beredar juga punya nilai guna,” kata Taufiek.