Soal Utang BUMN Rp 5.271 T, Ini Kata Menteri Rini

garuda bangkrut, pidato kebangsaan prabowo, menteri bumn, rini soemarno
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. (FOTO : net)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Utang BUMN yang nilainya mencapai ribuan triliun menjadi sorotan dari waktu ke waktu. Puncaknya adalah saat melangsungkan rapat dengan Komisi VI DPR beberapa pekan lalu.


Menanggapi hal ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku kesal.

“Sebentar-sebentar saya sudah paling kesal nih kalau orang sudah permasalahkan mengenai utang BUMN. Selama itu produktif, selama utang kita tarik untuk membesarkan perusahaan, untuk pembangunan, kalkulasinya benar, return of investmentnya benar, enggak masalah soal utang,” kata Rini saat menghadiri acara Pelepasan Duta Bangsa ke Proyek Aljazair, Taiwan dan Nigeria di Kantor WIKA, Jakarta, Minggu (9/12/2018).

Lebih lanjut, dirinya mengatakan kalau BUMN tidak berutang, maka perusahaan tidak bisa mengembangkan usaha.


Rini pun mengatakan terus terang, dirinya prihatin mendengar kabar miring mengenai utang BUMN yang terjadi belakangan ini.

“Terus terang saya belakangan ini ngenes dengernya. BUMN banyak utang. Lhoh apa masalahnya kita punya utang? Selama kita melakukannya dengan baik berutang dengan benar, bertanggung jawab dan betul-betul digunakan untuk hal yang produktif itu yang saya jaga,” jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Klik Ro menuturkan utang BUMN yang nilainya mencapai Rp 5.271 triliun pada kuartal III-2018 bukanlah utang riil.

Dia menuturkan misalnya dari sektor keuangan tercatat jumlah liabilitas Rp 3.311 triliun, tetapi itu terdiri dari Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp 2.488 triliun, cadangan premi dan asuransi Rp 335 triliun serta utang lain-lain senilai Rp 529 triliun.

“Jadi DPK apakah utang secara akunting betul (memang utang) Tetapi itu simpanan dimana dari Rp 3.311 triliun tidak membayarkan kembali kecuali anda tarik bukan konsep lending borrowing antara debitur dan kreditur. Not really utang Rp 2.488 triliun ditambah cadangan premi,” jelas Aloy.

Selanjutnya, ia menerangkan utang dari 143 BUMN yang benar-benar utang berbunga adalah liabilitas senilai Rp 5.271 triliun dikurangi DPK Rp 2.488 triliun dikurangi cadangan Rp 220 triliun dikurangi utang usaha Rp 79 triliun. Hasilnya adalah Rp 2.524 triliun.

(uji/JPC/pojoksatu)