Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pengusaha Dilema

makanan beku
Industri makanan/ilustrasi. Foto via JPNN

POJOKSATU.id, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat membuat para pengusaha berada di posisi terjepit.


Hal ini diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani.

Dikatakan, para pengusaha harus mempersempit margin keuntungan karena daya beli masyarakat belum stabil.

“Cost-nya naik, tapi harga tidak bisa dinaikkan,” ujar Hariyadi, dilansir JPNN.


Karena kondisi ini, pelaku usaha pun dipaksa memutar otak supaya tak merugi. Diantaranya, saat ini pengusaha gencar melakukan efisiensi di segala bidang.

“Jadi, produksi turun, efisiensi di tempat-tempat lain juga akan dilihat lagi. Semua pengeluaran akan di-review,” katanya.

Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, dirinya berharap hanya sementara.

Saat ini depresiasi dipengaruhi faktor eksternal. Karena itu, diharapkan ada titik koreksi yang lebih baik.

“Pada dasarnya, perekonomian sampai saat ini masih tumbuh dengan baik. Jadi, saya yakin ini sifatnya hanya temporary,” tuturnya.

Melemahnya rupiah juga dirasakan oleh pengusaha makanan dan minuman. Hal ini diungkapkan Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman.

Ia mengatakan, kebanyakan pabrikan mamin sangat merasakan dampak kenaikan harga bahan baku karena nilai tukar USD. Khususnya yang berskala menengah dan besar.

“Beberapa bahan baku untuk makanan dan minuman masih banyak mengandalkan impor seperti susu, gula, dan garam,” ujarnya.

“Sebagai upaya untuk menekan penurunan margin yang lebih dalam, pabrikan mamin memilih melakukan efisiensi dan menahan pengeluaran yang bisa ditunda,” tandasnya.

(agf/c20/fal/pojoksatu)