Pertumbuhan Produksi Lesu, Indonesia Berpotensi Jadi Importir Kopi

batu empedu
Ilustrasi. (FOTO : net)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Indonesia berpotensi menjadi importir kopi. Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.


Pernyataan ini didasarkan pada data pertumbuhan produksi kopi di Indonesia yang tercatat masih lesu, yakni sebesar 0,3 persen.

Produktivitas kopi petani kini sekitar 0,53 ton per hektare dari total potensi sebesar 2 ton per hektare untuk kopi robusta dan 0,55 ton per hektare dari total potensi 1,5 ton per hektare untuk kopi arabika.

Padahal, Indonesia adalah negara yang memiliki varian rasa kopi paling kaya di dunia.


Sebut saja kopi Gayo, Kintamani, Flores Bajawa, Toraja, dan lain-lain. Keanekaragaman itu dianggap tidak sesuai pertumbuhan produksinya.

“Kalau tidak diantisipasi tidak menutup kemungkinan 2-3 tahun mendatang kita menjadi importir kopi,” ujar Darmin, dilansir JawaPos.

Karena itu, ia menilai perlu dilakukan langkah antisipasi yakni dengan meningkatkan produksi kopi di tanah air.

Selain itu, pengembangan lahan kopi juga perlu dilakukan untuk mendukung peningkatan produksinya.

Sebab, data 2017 menunjukkan areal lahan kopi di Indonesia hanya sebanyak 1,25 juta hektare saja. Jumlah itu masih di bawah area lahan untuk karet dan kelapa sawit yang sudah di atas 2 juta hektare.

(ce1/hap/JPC/pojoksatu)