Jual Premium di Jamali, Pertamina Defisit

Menteri ESDM Ignasius Jonan
Menteri ESDM Ignasius Jonan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Keputusan pemerintah untuk menjual kembali BBM jenis Premium di wilayah Jawa, Madura dan Bali berdampak pada pendapatan PT Pertamina (Persero).


Hal ini diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan.

Dikatakan Menteri Jonan, jika Premium tidak naik harga maka keuangan Pertamina bisa mengalami defisit.

“Kalau (premium) tidak dinaikan harganya, lalu defisit saya kira iya. Lalu bagaimana? Saya minta dukungan, ini (premium di Jamali) tetap akan dilakukan,” ujarnya, dilansir JawaPos.


Selama ini, dikatakannya, pemerintah memertimbangkan inflasi dan kenaikan harga barang ketika hendak menaikkan harga Solar dan Premium. Sebab, kedua jenis bbm itu sudah tidak disubsidi.

Diketahui, berdasarkan Revisi Perpres 191 Tahun 2014 tentang penyaluran BBM, pemerintah meminta Pertamina untuk menyalurkan BBM di Jawa, Madura dan Bali.

Sebelum ada revisi, Pertamina juga menyalurkan di Jawa tetapi terbatas. Sehingga disepakati 571 SPBU untuk kembali jual Premium.

“Ada kenaikan konsumsi premium 10 sampai 15 persen diluar masa operasi Lebaran,” kata Jonan.

Supaya Pertamina tidak defisit terlalu dalam pemerintah menyerahkan alih kelola blok hulu migas seperti Mahakam.

Blok Mahakam, kata Jonan, produksinya besar yakni sekitar 150 ribu bpod dengan gas 600 mmscfd. Dengan diberikan itu, Jonan menyebut ada pendapatan bersih yang diterima Pertamina sebesar USD 600 juta.

“Dengan diberikan itu, net cash flow kalau tidak salah USD 600 juta. Ini bisa digunakan Pertamina, untuk ya secara cash flow kan terganggu, tapi gak parah parah amat,” ungkapnya.

Selain itu, ada pula blok PHE ONWJ dan 10 blok-blok kecil yang diberikan juga ke Pertamina. Jadi, kata Jonan, diharapkan sektor hulu bisa mendapatkan tambahan pendapatan yang bisa menutup defisit Pertamina di sektor hilir.

(uji/JPC/pojoksatu)