Inflasi Jatim Maret 2018 Dipicu Bawang dan Bensin

Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU.id, SURABAYA – Badan Pusat Statistik menyebutkan, bawang merah, bawang putih dan bensin memberikan andil terhadap inflasi Jawa Timur bulan Maret 2018.

Disebutkan, Inflasi Jawa Timur di bulan Maret 2018 sebesar 0,06 persen, lebih rendah dibanding dengan inflasi di bulan Februari 2018 sebesar 0,16 persen.

Sedangkan tingkat Inflasi tahun kalender (Januari – Maret) 2018 di Jawa Timur mencapai 0,82 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2018 terhadap Maret 2017) mencapai 3,16 persen.

Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Teguh Pramono menjelaskan, pasokan bawang putih yang belum bisa mengimbangi permintaan menyebabkan kenaikan harga.

Selain itu, minimnya realisasi impor bawang putih yang dilakukan pemerintah juga belum mampu menekan harga di pasar.

Teguh menambahkan, selain bawang putih, bawang merah juga mengalami kenaikan harga akibat cuaca buruk yang mengakibatkan terjadinya gagal panen di beberapa daerah sentra bawang merah.

Komoditas lain yang juga turut menyumbang inflasi adalah kenaikan harga komoditas kelompok bensin. Diketahui, mulai tanggal 24 Maret 2018 pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak non subsidi jenis Pertalite sebesar Rp 200 per liter.

“Selain tiga komoditas utama pendorong inflasi di atas, komoditas lain yang juga mendorong terjadinya inflasi bulan Maret ialah cabai rawit, cabai merah, tongkol pindang, emas perhiasan, nangka muda, kontrak rumah, dan pepaya,” lanjutnya.

Teguh menjelaskan, pemantauan terhadap perubahan harga selama bulan Maret 2018 di 8 kota IHK Jawa Timur menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau.

Oleh karena itu, menurutnya, hal ini mendorong terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,06 persen yaitu dari131,09 persen pada bulan Februari 2017 menjadi 131,16 persen pada bulan Maret 2018.

Teguh menyampaikan, dari hasil pemantauan inflasi terhadap 8 kota IHK di Jawa Timur selama Maret 2018 menunjukkan enam kota mengalami inflasi, dan dua kota mengalami deflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi di Malang dan Banyuwangi yang mencapai 0,12 persen, diikuti Kediri 0,10 persen, Surabaya 0,06 persen, Madiun 0,02 persen, dan Sumenep 0,01 persen,” jelasnya.

(sb/jpg/jay/JPR/pojoksatu)

Loading...