Soal Perbedaan Aturan SNI, Ini Kata Ketua Asosiasi Mainan

aturan sni
Ilustrasi/foto via JawaPos

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas buka suara soal perbedaan pemahaman aturan SNI.


Hal ini menyusul peristiwa yang ramai baru-baru ini. Salah seorang pemilik akun facebook bernama Faiz Ahmad memposting sebuah video yang mengimpor mainan Power Ranger Ninja Storm Karakuri Ball merek Bandai.

Namun, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Bengkulu enggan mengeluarkan barang itu.


Alasannya, pemilik mainan yang harga tak lebih dari Rp 500 ribu itu tidak bisa menunjukkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Untuk mendapatkan sertifikasi itu, Faiz diminta membayar biaya antara Rp 7 juta sampai Rp 8 juta.

Menanggapi hal tersebut, Sutjiadi Lukas menilai jika masih terdapat perbedaan pemahaman antara pihak Kementerian Perindustrian dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) perihal SNI memicu terjadinya kesalahan prosedur terhadap penanganan produk SNI khususnya di bandara.

Ia menilai, aturan mengenai SNI nampaknya masih rancu. Aturan itu disebut tidak memiliki detail yang sesuai dalam pengelompokannya.

Ketidakselarasan pemahaman tersebut dianggap merugikan bagi pengusaha. Sebab, kejadian itu hanya akan menguras isi kantong mereka dengan sebuah aturan yang belum jelas.

“Perindustrian juga bilang ini tidak perlu SNI, tapi bea cukai bilang ini SNI. Sering kali terjadi begitu. Akhirnya pengusaha jadi sapi perahan,” tandasnya.

(hap/JPC/pojoksatu)