Peran Manufaktur Terhadap Ekonomi RI Terus Meredup

Airlangga Hartarto terpilih jadi Ketua Umum Partai Golkar melalui rapat pleno. Foto via jawapos.com
Airlangga Hartarto. Foto via jawapos.com

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Faisal Basri menilai, selepas era krisis 1998 kontribusi manufaktur terhadap ekonomi nasional terus meredup.


Padahal, industrialisasi merupakan suatu keharusan bagi Indonesia untuk memperkuat struktur ekonomi domestik.

Disebutkan, pada 2001 peran manufaktur terhadap ekonomi RI mencapai 29,05 persen.

Angka tersebut terus menyusut hingga akhirnya hanya menjadi 20,26 persen pada semester pertama 2017.


Sementara, jika dibandingkan dengan peran manufaktur dalam ekonomi pada negara-negara Asia Timur dan Pasifik kebanyakan melebihi Indonesia.

Misalnya, peran manufaktur terhadap ekonomi Tiongkok dan Korea Selatan mencapai 29,7 persen.

Sementara itu, sumbangan manufaktur terhadap ekonomi Malaysia dan Thailand masing-masing 30,9 persen dan 31,1 persen.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sepakat jika industri pengolahan nonmigas berperan penting dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya, kontribusinya mampu memberikan efek berantai seperti peningkatan terhadap nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

Selain itu, sektor manufaktur dalam negeri menjadi penyumbang terbesar dari pajak dan cukai.

“Suatu negara dikatakan maju apabila industrinya tangguh,” ujarnya.

Disebutkan, Berdasar laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menduduki peringkat kesembilan di dunia.

Jika dibandingkan tahun lalu, posisi Indonesia naik untuk kategori manufacturing value added.

Peringkat Indonesia ini sejajar dengan Brasil dan Inggris. Bahkan, lebih tinggi daripada Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya.

(agf/c10/sof/pojoksatu)