Pariwisata Bali Rugi Ratusan Miliar

Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali pagi ini, 28 November 2017 ditutup lagi. Mulai pukul 07.00 WITA, sampai 07.00 WITA besok, 29 November 2017. (sumber foto : indosurflife.com)
Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. (sumber foto : indosurflife.com)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pariwisata Bali rugi hingga Rp 243 miliar. Hal ini diungkapkan Ketua PHRI Bali Tjokorda Artha Ardana Sukawati.


Dikatakan, jumlah tersebut mengacu pada hitung-hitungan yang pernah dilakukan Bank Indonesia.

Ia merinci, dalam satu hari Bali didatangi 18 ribu wisatawan. Satu wisatawan yang rata-rata lama tinggal antara tiga sampai empat hari bisa menghabiskan dana senilai Rp 13.500.000.

Jika dikalikan ketika ada penutupan bandara dalam satu hari, pariwisata Bali merugi mencapai Rp 243 miliar.


“Itu di luar airline. Rata-rata setiap bulan sebanyak 500 ribu wisatawan pengeluarannya 65 persen untuk makanan dan penginapan,” terang Cok Ace.

Saat ini diprediksi terdapat 164 ribu wisatawan yang ada di Bali, akibat penutupan bandara Ngurah Rai sejak Senin lalu.

Menurutnya, untuk mengatasi semua masalah terkait kenyamanan wisatawan ini memang perlu penanganan tuntas.

Diketahui, penutupan bandara Ngurah Rai dikarenakan bencana erupsi Gunung Agung.

Kondisi ini sangat berdampak pada sektor pariwisata yang menjadi jantung Bali.

Meski begitu, kata Cok Ace pihak industri pariwisata tidak memikirkan untung rugi.

Yang dikedepankan justru menjaga citra pariwisata Bali, yakni bagaimana memberi pelayanan terbaik dalam kondisi saat ini.

“Memang skenario awal penanganan wisatawan saat erupsi Gunung Agung berbeda dari fakta. Karena tidak mudah memberlakukan skema yang kita rencanakan sebelumnya,” ujarnya.

Saat ini proses evakuasi wisatawan mengalami kendala. Salah satunya beberapa wisatawan yang menuju Surabaya terkendala luapan lumpur Lapindo di wilayah Sidoarjo.

Dan, situasi ini diakui sangat menghambat proses evakuasi. Sehingga dilakukan perencanaan alternatif, yakni dengan melalui Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, menuju Jakarta dan Surabaya.

Sejumlah alternatif lain pun kini disiapkan sebagai solusi mengatasi permasalahan yang ada.

“Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa maskapai. Nanti bagi wisatawan yang akan menuju Banyuwangi tidak dipungut biaya apa pun,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga telah mengimbau pelaku usaha hotel untuk tidak memberlakukan cancellation fee.

Sehingga mereka yang sudah melakukan pembayaran di awal bisa melakukan reschedule. “Jadi tidak ada yang hilang uangnya,” tegas mantan Bupati Gianyar ini.

(rb/zul/mus/mus/JPR/pojoksatu)