Industri Tekstil Melemah, Ini Penyebabnya

industri tekstil melemah
Ilustrasi buruh dan pekerja. Foto: JPNN

Untuk mencegah pemutusan hubungan kerja secara masal, pemerintah diharapkan memberikan insentif berupa diskon tarif listrik dan diskon tarif pajak penghasilan (PPh).

Diskon pajak penghasilan untuk pekerja menjadi 2,5 persen yang bersifat final dinilai tidak berdampak.

Alasannya, perusahaan penerima insentif harus memiliki minimal dua ribu karyawan.

Sedangkan di Jatim hanya sekitar lima persen perusahaan tekstil yang memiliki karyawan di atas 1.000 orang.


Meski demikian, ekspor tekstil asal Jatim masih mampu menorehkan kinerja positif dengan pertumbuhan 1–3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan itu belum mencapai target pertumbuhan lima persen pada tahun ini.

“Permintaan global memang naik, tetapi harga hancur. Sebab, industri tekstil di Tiongkok saat ini semakin efisien dan semuanya tidak bisa bersaing melawan Tiongkok. Mau tidak mau harus mengikuti harga di Tiongkok,” tutur Sherlina.

Saat ini, Tiongkok menguasai pasar tekstil dunia dengan pasokan 50 persen dari total kebutuhan tekstil.

Industri juga mewaspadai rencana Tiongkok membangun pelabuhan di Gwadar, Pakistan.

Pelabuhan tersebut diproyeksi memangkas waktu ekspor Tiongkok ke Timur Tengah hingga dua minggu.

(vir/c21/noe/jpnn/pojoksatu)