Industri Tembakau Sumbang Negara Rp138,69 Triliun dan Serap 5,98 Juta Tenaga Kerja

Menperin Ailangga Hartarto ketika mengunjungi industri tembakau di Pasuruan.

POJOKSATU.id, PASURUAN – Industri hasil tembakau (IHT) merupakan salah satu sektor strategis domestik yang memiliki daya saing tinggi dan terus memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Sumbangan sektor yang dikategorikan sebagai kearifan lokal ini meliputi penyerapan tenaga kerja, pendapatan negara melalui cukaiserta menjadi komoditas penting bagi petani dari hasil perkebunan berupa tembakau dan cengkeh.

“Kontribusi industri hasil tembakau cukup tinggi setelah industri makanan dan minuman. Di Jawa Timur, industri ini menjadi unggulan. Fasilitas KUDdi sinijuga luar biasa serta telah melakukan bentuk kemitraan perusahaan dengan koperasi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika mengunjungi Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) di Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (9/3).

Kemenperin mencatat, pendapatan negara dari IHT yang berasal dari cukai dan pajak setiap tahunnya mengalami peningkatan. Kontribusi IHT pada tahun 2016 memberikan pembayaran cukai sebesar Rp138,69 triliun atau 96,65 persen dari totalcukai nasional.


Sedangkan, serapan tenaga kerja di sektor manufaktur dan distribusi mencapai 4,28 juta orang serta di sektor perkebunan sebanyak 1,7 juta orang.

BACA JUGA :

UMKM Jadi Penggerak Digital EKonomi

Pasangan Setia, Dianugerahi Anak Pada Usia 72 Tahun

Aneh! Air Danau Berwarna Pink

“Perkembangan industri ini telah menjadi bagian sejarah bangsa dan budaya masyarakat kita, khususnya rokok kretek yang merupakan komoditas berbasis tembakau dan cengkeh yang sangat Indonesia serta merupakan warisan nenek moyang bangsa dan sudah mengakar secara turun-temurun,” papar Airlangga.

Namun demikian, Airlangga menyampaikan, menurunnya unit usaha industri rokok tidak disertai dengan penurunan produksi. Pada tahun 2014, jumlah industrinya mencapai 700 perusahaan dengan kemampuan produksi sebanyak 346,3 miliar batang.

Sedangkan, dengan jumlah 600 perusahaan di 2015, produksi rokok naik menjadi 348,1 miliar batang dan tahun 2016 sebesar 350,03 miliar batang.

“Tetapi terjadi penurunan sebesar 3,5 persen dalam lima tahun terakhir atas jumlah pekerja sektor manufaktur rokok dan pada perkebunan tembakau turun sebesar 4,7 persen,” ungkapnya.

Menurut Airlangga, pangsa pasar IHT saat ini mulai berubah karena dipengaruhi lifestyle masyarakat perokok yang memperhatikan kesehatannya dengan memilih rokok yang mengandung tar dan nikotin rendah, sehingga masyarakat perokok mengarah ke Sigaret Kretek Mesin (SKM), baik jenis reguler maupun mild.

Data market share dari jenis rokok pada tahun 2016, untuk SKM sebesar 72,07 persen, Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar 20,23 persen, dan Sigaret Putih Mesin (SPM) sebesar 5,43 persen. Sisanya, antara lain rokok Klobot dan Klembak menyan sebesar 2,27 persen. (*/pojoksatu)