Dengan Tenologi Ala Militer Ini, Telkom Gandakan Pelanggan IndiHome

Indihome

POJOKSATU.id, JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) telah beralih ke teknologi analisis berbasis lokasi canggih.

Itu merupakan bagian dari usaha perusahaan untuk menggandakan jumlah pelanggan IndiHome-nya. Yakni dari dua juta ke empat juta hingga 2020 mendatang.

Perangkat analisis berbasis lokasi yang digunakan Telkom adalah teknologi pemetaan level militer yang dikenal sebagai platform ArcGIS.

Teknologi ini mampu mengintegrasikan data dari beragam sistem bisnis, melakukan analisis level tinggi, dan menyuguhkan data siap guna dalam tampilan peta yang dinamis. Solusi ini menyuguhkan data dengan visualisasi akurat dan sangat jelas.


Misalnya, data lokasi dan demografi pelanggan, tren pasar, dan lokasi perangkat seperti Optical Distribution Points (ODP). Dengan demikian, para pengambil keputusan di perusahaan memiliki informasi yang jauh lebih jelas mengenai distribusi pelanggan dan luas cakupan layanan jaringan mereka.

Informasi yang dihasilkan dari teknologi ini membantu perusahaan menentukan lokasi-lokasi strategis untuk menginstal ODP mereka.

Yaitu di wilayah yang memiliki konsentrasi  pelanggan telekomunikasi yang tinggi.

Dengan demikian, di area terkonsentrasi tersebut Telkom dapat memfokuskan layanan kualitas tinggi untuk produk sambungan telepon, komunikasi internet, dan layanan TV berbayar milik mereka.

“Baik untuk merespons pertanyaan dari pelanggan, meningkatkan cakupan layanan data, atau meluncurkan produk dan layanan terbaru, lokasi adalah inti dari rangkaian kegiatan yang dilakukan industri telekomunikasi. Oleh karenanya, informasi yang berkenaan dengan lokasi sangat penting dalam setiap aspek pengambilan keputusan,” ujar CEO Esri Indonesia A. Istamar, Jumat (7/10).

“Saat ini, industri telekomunikasi sedang mengalami lonjakan pertumbuhan data. Berhubung perusahaan menggunakan sejumlah perangkat yang berbeda untuk membantu proses pengambilan keputusan, kebutuhan akan data yang dapat ditampilkan dalam bentuk pemetaan terus tumbuh,” imbuhnya.

“Sayangnya, dari perangkat business intelligence yang tersedia, yang dimanfaatkan untuk memproses dan menganalisis data semacam ini seringkali sulit dioperasikan. Sehingga tidak jarang kita menemukan hasil data yang disuguhkan dalam bentuk peta statis yang tidak dapat digali lebih lanjut oleh pengguna,” jelas Istamar.