Harga BBM akan Naik, Ini Reaksi Keras Organda

harga bbm turun
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) merencanakan akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM), akibat rupiah loyo. Namun rencana kenaikan tersebut, diprotes keras oleh Sekretaris Jenderal Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Andriansyah.

Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini justru bukan momentum tepat untuk kembali menaikkan harga BBM. Sebab, kondisi tersebut belum stabil. ”Seharusnya pemerintah menjaga supaya BBM stabil,” ungkapnya saat dihubungi kemarin, Minggu (15/3).

Kenaikan itu pun akan mencekik para operator transportasi umum. Pasalnya, harga BBM turut berkontribusi pada besarnya biaya operasional angkutan umum 35–37 persen serta biaya pemeliharaan/suku cadang hingga 26 persen. Kondisi itu pun akhirnya sangat berpotensi untuk mendorong adanya penyesuaian tarif yang kemudian akan ditujukan kepada pengguna jasa.

”Meski nanti pasti didahului dengan kajian dan evaluasi,” ungkapnya. Sementara itu, bagi konsumen BBM jenis premium, rencana kenaikan tersebut tentu akan semakin menggerus tabungan mereka. Sebab, pemerintah telah mencabut subsidi untuk BBM jenis itu awal tahun lalu.


Meski demikian, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, justru berpendapat agar subsidi BBM tidak dikembalikan seperti semula. Sebab, menurut dia, subsidi BBM premium yang diberikan pemerintah kala itu hanya dinikmati sebagian masyarakat. ”Subsidi BBM sampai kapan pun tidak tepat. Karena hanya dinikmati orang kota,” ujarnya.

Tulus mengatakan, subsidi sebaiknya dialihkan pada sektor lain yang dapat secara langsung menyentuh masyarakat tanpa adanya kecurangan. Pengalihan dapat dilakukan pada sektor pangan, kesehatan, dan pendidikan. ”Lebih tepat sasaran,” tegasnya.

Agus Pambagyo, pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen, mengatakan bahwa masyarakat harus menghadapi kenyataan naiknya premium. Menurut dia, itu kesalahan pemerintah sendiri yang berani menurunkan harga saat minyak dunia anjlok. ”Kalau sudah naik, lebih baik enggak usah diturunkan lagi,” katanya.

Uang yang diperoleh dari jualan BBM bisa dialihkan untuk banyak hal. Misalnya, bidang pembangunan. Selain itu, berdasar pengalaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat BBM diturunkan, harga komoditas lain tidak ikut turun.

”Saat dinaikkan, kondisinya sudah tenang. Kalau sudah turun, ketika naik lagi, masyarakat pasti menderita,” terangnya. Meski sepakat adanya pencabutan subsidi premium, Indonesia disebutnya perlu hati-hati dalam menentukan kebijakan terkait minyak. Sebab, produksi masih didominasi minyak impor. (dim/mia/c10/sof/jp/lya)