Pertamina Gandeng Akuo Energi, Kembangkan Pembangkit 560 MW

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU – Penyediaan energi listrik yang berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) direspons PT Pertamina (Persero) dan Akuo Energi. Kedua perusahaan itu menandatangani kesepakatan kerja sama untuk mengembangkan tenaga listrik, Rabu (11/2). Targetnya, pada 2018 nanti sudah bisa mendirikan pembangkit listrik dengan total daya 560 megawatt (MW).

Dalam kesepakatan yang ditandatangani Direktur Energi Baru dan Terbarukan Pertamina Yenni Andayani dan CEO Akuo Energy Eric Scotto itu, fokus pada pengembangan tiga sumber energi. Yakni, tenaga angin, tenaga surya, dan konversi energi termal Lautan atau Ocean Thermal Energy Convertion (OTEC).

“Kami segera mengidentifikasi lokasi-lokasi yang sesuai dengan ketiga jenis EBT itu,” jelas Yenni.

Dia menyebut kerja sama itu perlu dilakukan karena permintaan listrik yang tumbuh sampai 8,5 persen per tahun sejak 2011. Selain itu, pemerintah juga menargetkan kontribusi EBT pada energi nasional sampai 23 persen.


Lebih lanjut Yenni menjelaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan menetapkan tiga pulau untuk lokasi pembangkit listrik. Lokasinya memang belum ditentukan. Tapi dia menyebut ada korelasi dengan keinginan pemerintah untuk menerangi daerah terpencil. Terutama, yang listriknya masih bergantung pada diesel. “Kami akan fokus ke wilayah-wilayah tersebut,” ungkapnya.

Untuk bisa mendirikan pembangkit, Pertamina dan Akuo Energi akan mencari pulau dengan tiga pertimbangan. Yakni, luasan pulau, populasi penduduk, dan kebutuhan listriknya.

Target awal, kedua perusahaan itu sepakat untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas 5 MW pada 2016. Bentuknya, solar photovoltaic atau tenaga surya. Setelah itu, tetap ada pembangkit tenaga surya lagi yang dibangun. Tapi, diikuti dengan pembangkit tenaga angin berkapasitas 60 MW.

“Di 2018, ada target membangun pembangkit listrik dengan kombinasi tenaga angin, surya, dan OTEC. Kapasitas totalnya 560 MW,” jelasnya.

Kalau rencana itu berjalan dengan lancar, Yenni menyebut banyak hal positif yang didapat. Selain baik untuk lingkungan karena pembangkit listriknya bebas emisi, juga mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam pengembangan EBT di ASEAN. Apalagi, pembangkit itu dipastikan punya kandungan lokal tinggi. (dim/tia/jpnn/lya)