Februari, Harga Premium Tetap

harga bbm turun
Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Pemerintah memastikan tidak ada perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Februari. Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang menyebut, harga BBM di Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) maupun di luar tetap sama. Alasannya, harga Mean of Platts Singapore (MoPS) masih stabil.

Sesuai dengan Permen ESDM 39/2014, penentuan harga baru BBM berdasar harga dasar yang ditentukan pemerintah. Perhitungan harga dasar ditentukan oleh rata-rata harga indeks pasar dan kurs rupiah dari tanggal 25 sampai dengan tanggal 24 bulan sebelumnya.

’’Sudah dievaluasi, tidak berubah, baik penugasan (non Jamali) maupun harga umum,’’ tegasnya semalam. Pemerintah sebenarnya bisa saja menurunkan harga lagi karena kondisi minyak dunia tetap anjlok. Tetapi, penurunannya masih sangat kecil, sekitar Rp 50 per liter.

Menurut dia, penurunan atau kenaikan harga tidak bisa dilakukan dengan hanya melihat satu faktor. Review dalam dua minggu terakhir memang memungkinkan turunnya harga premium. Tetapi, itu belum cukup untuk menurunkan harga lagi. ’’Tunggu MoPS turun lagi lah,’’ imbuhnya.


Sebelumnya, dia menyatakan, pemerintah juga menimbang margin yang diperoleh Pertamina saat menjual premium. Bambang menyebut margin perusahaannya belum mencapai ketentuan pemerintah, yakni 5 persen. Kalau pemerintah mau menurunkan harga BBM penugasan luar Jamali, itu bisa saja dilakukan. Tapi, hal tersebut berdampak pada harga di Jamali.

Premium yang dilepas Rp 6.700 per liter harus dinaikkan. Namun, opsi itu tidak bisa diterima Menteri ESDM Sudirman Said. Akhirnya, muncul kesimpulan bahwa harga BBM tidak perlu turun, tapi Pertamina juga tidak boleh menaikkan harga. Apalagi turunnya tidak terlalu signifikan.

’’Setelah saya cek lagi, margin sudah sedikit di atas 5 persen, tapi tetap tidak ada (perubahan harga bensin),’’ ungkapnya. Dia lantas kembali menyatakan bahwa penurunan harga menunggu MoPS turun.

Ahmad Bambang mengatakan, pola baru yang diterapkan pemerintah tidak memberikan banyak keuntungan kepada Pertamina. Tetapi, itu masih lebih baik daripada menjual produk dengan harga rugi. Aturan menyebut margin untuk badan usaha di wilayah Jamali minimal 5 persen dan maksimal 10 persen. (dim/c6/nw/jp/ps)