Indonesia Masih Bisa Suplai Mandiri Kebutuhan BBM, Asal…

Ilustrasi

Pertamina-Kantor

PT Pertamina (Persero) mengaku melakukan impor bahan bakar minyak (BBM) karena produksi minyak dalam negeri masih jauh dari harapan. Mestinya, Pertamina bisa mem­produksi BBM sendiri dengan segera membangun kilang baru.

Vice President Strategic Plan­ning Business Development and Operation Risk-Refining Pertamina Achmad Fathoni Mahmud membandingkan In­donesia dengan Vietnam.

Menurutnya, Indonesia masih bisa bersaing dan mandiri dalam menyuplai kebutuhan BBM. Pasal­nya, Vietnam menjadi salah satu negara Asia Tenggara yang cukup bergantung dengan negara lain da­lam memenuhi kebutuhan BBM.


”Vietnam lebih parah dari Indonesia. Dia impor BBM lebih banyak dari kita. Untuk sekarang begitu. Hal ini bisa berubah jika kita tidak lakukan apa-apa,” tegas Fathoni di Jakarta.

Namun, khusus negara-negara tetangga seperti Thailand, Malay­sia dan Australia, diakui Fathoni Indonesia masih cukup tertinggal dalam memenuhi kebutuhan BBM secara mandiri. Sebab, Indonesia hanya mampu memproduksi ke­butuhan BBM bagi masyarakat sebesar 48 persen.

BBM ini terdiri dari mi­gas, diesel, kerosine dan hanya memasok 48 persen dari total kebutuhan. Sisanya ini diperoleh melalui impor,” ungkapnya.

Dikatakan, persentase itu ber­dasarkan survei statistik di 2013. Bila tidak dilakukan tindakan dalam memperbesar porsi peran domestik dalam menyuplai kebutuhan BBM, persentase itu akan terus menurun.

Ini tantangan, prediksi di ta­hun 2025 semua akan tergantung impor. Peran domestik untuk menyuplai BBM ke masyarakat hanya 38 persen, sisanya impor. Negara kita rawan ketahanan energi nasional,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Center for Energy and Strategic Resources Prima Mulyasari Agustini men­gatakan, pemerintah harus men­gurangi impor premium (bensin) setelah adanya peralihan peng­gunakan premium ke pertamax.

Tren pengalihan konsumsi BBM jenis premium ke pertamax harus disikapi oleh pemerintah dengan cara mengurangi impor premium. Pasalnya, pengalihan konsumsi itu menandakan ada keinginan masyarakat untuk mendapatkan BBM yang lebih berkualitas.

Dengan mengurangi impor premium, berarti pemerintah mengarahkan masyarakat un­tuk mengonsumsi bahan bakar yang lebih berkualitas serta ikut mendidik masyarakat untuk kurang mengkonsumsi BBM yang merusak lingkungan,” jelas Prima.

Kendati begitu, pemerintah tetap harus membangun kilang-kilang baru untuk memproduksi pertamax setelah ada kecend­erungan keinginan pasar tentang bahan bakar yang lebih baik dan ramah lingkungan.

Jika kilang baru terbangun, untuk konsumsi di dalam negeri selanjutnya tidak mesti disuplai oleh BBM dari luar. Atau, kita membeli minyak mentah dari luar dan mengolahnya di dalam negeri dengan menggunakan kilang sendiri,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Pusaka Trisak­ti Fahmi Habsyi meminta pemerin­tah memindahkan dana APBN ke program percepatan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Logika yang harus dibangun saat ini adalah mengurangi im­por BBM yang dinikmati mafia minyak dan birokrat korup,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintahan saat ini tidak perlu menengok ke belakang dengan menyalahkan kebijakan pemerintahan sebel­umnya yang membiarkan impor BBM jalan terus. Itu alasan klasik,” cetus Fahmi. (jpnn)