Tempe Mendunia, Bisa Saingi Popularitas Kimchi

Profesor Antonius Suwanto (tengah) dari Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya.
Profesor Antonius Suwanto (tengah) dari Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya.
Profesor Antonius Suwanto (tengah) dari Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya.

POJOKSATU – Tempe bisa sepopuler makanan fermentasi khas Korea, kimchi. Syaratnya, harus ada langkah serius untuk mempopulerkannya. Salah satunya dengan mendirikan pusat riset tempe di Indonesia yang menjadi acuan dunia.

“Korea punya World Institute of Kimchi juga museum Kimchi. Jadi kita harus punya World Tempe Research Center di Indonesia,” kata profesor Antonius Suwanto dari Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya di Jakarta, Rabu (21/1).

Dia menyebut tempe sudah sering menjadi objek penelitian di luar Indonesia, seperti di Amerika Serikat, Belanda, Jepang dan Malaysia.

“Malaysia sudah mau membuat institut kajian tempe. Rasanya kurang elok bila pusat riset tempe ada di negara lain. Harusnya kita yang punya perhatian lebih terhadap tempe,” ujar anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu.


Salah satu langkah awal untuk mewujudkan mimpi itu adalah menyelenggarakan Conference on Tempe and Its Related Product 2015 pada 15-17 Februari di Sheraton Hotel Yogyakarta. Kesempatan itu akan dimanfaatkan oleh Indonesia untuk belajar mengembangkan tempe kepada ahli dari negara yang memiliki makanan hasil fermentasi, seperi ahli kimchi dari Korea.

“Juga keju dari Prancis, bagaimana industri keju di Prancis, ada industri besar tetapi juga bisa tetap memelihara industri kecil,” tambah dia.

Indonesia juga perlu merumuskan standar pembuatan tempe yang baik, meliputi bahan, cara pembuatan dan hasil akhir.

“Korea juga memiliki standar untuk membuat kimchi, kita juga harus mempelajari tempe untuk membuat standar sendiri, jangan sampai mendapat standar dari luar,” ujarnya. (ant/ps)